Arsip untuk ‘Life’ Kategori

Post

We Will Not Go Down!

In Agama, Catatan Harian, Life, Politik on 16 Januari 2009 oleh manikmaya

Lagu buat gaza yang bisa anda nikmati disini,

pokonya Speechles kalo denger lagu ini…

WE WILL NOT GO DOWN

(Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Post

Kemilau jingga di merahnya senja…

In Catatan Harian, Filsafat, Life, Satra on 25 September 2008 oleh manikmaya

hmm..begitu sulit untuk menulis, lama juga tak posting di blog . ada semacam kekangenan untuk menulis kembali. namun saya merasa tidak punya apapun untuk dituliskan. header tulisan ini mungkin terlihat sedikit gagah ato barangkali terlihat sedikit puitis. entahlah saya hanya menulis header sesuai keinginan saja, entah itu relevan dengan isi tulisan? saya tidak tahu…toh ini hanya sebuah header bukan sebuah hal yang mesti diperdebatkan…saya hanya ingin menulis dan saya yakini setiap penulis memiliki kebebasan untuk menuangkan kreasi yang ditulisnya sesuai dengan keinginan, lepas dari relevan atau tidaknya isi header dengan tulisan tersebut.

Saya jadi teringat  dulu dengan sebuah buku yang menurut saya sangat unik dan kreatif. judul buku itu adalah Vagina Kosong. hmm..saya tertarik dengan buku itu bukan karena persoalan judulnya yang berjudul Vagina (maaf), tetapi ketertarikan saya ini dilandasi oleh ketertarikan saya pada sebuah  buku puisi yang pada waktu itu ramai dibaca dan diperbincangkan oleh kaum feminis. Vagina Monologue, setidaknya itu adalah sebuah ekpresi feminis mengenai identitas dan jatidiri perempuan yang diperlambangkan dengan organ genital yaitu vagina.  hmm..kembali ke buku vagina kosong yang saya peroleh..dari teman saya dulu yang seorang aktivis PMII, saya justru kagum dengan apa yang ada dibuku itu,.. buku itu ternyata benar- benar kosong..tidak ada tulisan apapun kecuali sebuah header ;

buku ini kosong, silahkan anda tulis sendiri isi buku ini…

hahaha..saya ngakak ketika baca tulisan itu, saya buka semua keseluruhan halaman dibuku itu..ternyata benar-benar kosong saudara saudara..tapi it’s amazing menurut saya, kreatif…memang sejatinya menurut saya pribadi untuk menyampaikan sebuah pesan atau sebuah hal yang ingin kita sampaikan ngak perlu juga nulis sebuah hal yang macam-macam, atau tidak perlu juga kita pikirkan relevan enggaknya tulisan itu…toh pada akhirnya karya itu sebagai sebuah hal yang fenomenologis akan berbicara sendiri…, bukankah kekosongan adalah sebuah hal yang eksis??  dan silahkan menafsirkan kekosongan dengan pikiran anda masing-masing. seperti halnya tulisan ini “Kemilau jingga di merahnya senja..” silahkan definisikan atau pikirkan oleh anda arti ” kemilau jingga di merahnya senja..”.

akan ada berbagai macam deskripsi dan definisi yang anda berikan terhadapnya..dan saya merasa itu sah-sah saja. masing-masing individu berhak menilai, mengapresiasi bahkan menghakimi sebuah teks..karena teks itu meski mati…ia akan senantiasa ada pada aras konteks yang dijalaninya. saya jadi inget kata Nietszche..” Tak ada fakta,..yang ada hanyalah tafsir!!”.  jadi silahkan anda menafsrkan tidak ada larangan toh ini bukan sebuah teks kitab suci. meskipun saya sebagai pribadi meyakini, bahkan sebuah teks kitab suci itu sendiri adalah sebuah hal yang bersifat multi tafsir..dimana orang dengan berbagai kapasitasnya bisa menafsirkan sendiri teks itu..toh pintu bagi menafsir dan berijtihad itu tidak pernah tertutup. karena sejatinya kebenaran akan selalu ada dalam tiap masa.

Saya lantas jadi teringat pada film Laskar Pelangi yang minggu kemaren saya tonton dengan seorang teman, mhh..nice movie saya pikir, saya tau bahwa membuat film dari sebuah novel akan sangat sulit..masalahnya ada pada bentuk tafsir itu tadi,..sulit sebenarnya untuk mendeskripsikan sebuah teks ke dalam bentuk gambar apalagi dibatasi oleh durasi waktu..tapi bagaimanapun saya mengapresiasi karya itu. sebagai tafsir terhadap sebuah teks, saya pikir film itu berhasil menghadirkan pesan yang ingin disampaikan oleh novelnya…

tafsir terhadap sebuah teks, karya, atau pemikiran  tak ubahnya sebuah kemilau di merahnya senja..(haha…nyambung ngak?)..sebuah keberanian dalam menafsir adalah sebuah kemilau,..sebuah hal yang patut diapresiasi oleh siapapun..pada akhirnya teks itu akan berbicara dengan sendirinya seperti halnya  sebuah Kemilau di merahnya senja…

Post

Illuminata

In Catatan Harian, Life, Satra on 25 September 2008 oleh manikmaya

Kadang tidak bijaksana tahu terlalu banyak

Hidup penuh kesenangan yang menimbulkan rasa haus bukan?

Percuma saja berfikir baik maka aku berhenti berfikir baik

Terkadang bias antara realita dan drama

Hidup adalah sepotong adegan dari sebuah drama

Terkadang cinta membuat kita gila

Gilakah bila kita terlalu mencintai?

Ketika aku terjaga aku menangis pada mimpi lagi

Aku ingin Mengubah momen menjadi sesuatu yang berfijar

Aku diajak berdialog dengan realita

Dengan diriku sendiri

Dalam perjalananku

Cinta adalah eksistensi

Aku bisa berubah

Aku akan berubah!

Cinta membuat kita diam

Merasakan kehangatan dalam sepi

Mengggetarkan jiwa yang terluka

Cinta adalah perasaan terdalam yang dapat menyatukan kita dalam waktu

Kebebasan yang sebenarnya adalah tidak memiliki kesombongan

Aku mengingatmu disini istriku, aku mencintaimu!

Aku bisa merasakanmu

Aku tahu

Merasakan lembut kulitmu

Aku ingin menyentuhmu

Tidak ada Aku!

Tidak, Bukan Kau!

Kita hidup dari satu panggung ke panggung yang lainnya

Dunia adalah komedi bagi orang yang berpikir

Dunia adalah tragedi bagi orang yang merasakan

Aku tahu

Aku tak mampu mencintaimu

sedalam yang mampu kau lakukan!

Aku ingin pergi bersama angin

Aku hanya ingin pergi kedepan

Melangkah kedepan

Dengan pasti

Bahwa ku mencintaimu

Walau kutahu

Aku takkan mampu memilikimu

Setiap jam dalam hidup punya nilai tersendiri

Kau adalah temanku,istriku, hidupku!

Aku lahir tak sempurna

Dididik tak sempurna

Dipelihara tangan-tangan tak sempuna

Bila kau mencari orang yang tak sempuna

Akulah orangnya

Bila kau mencari orang yang mencintai orang tak sempuna lainnya

Akulah orangnya!

(From movies, Illuminata, Transtv)

Post

Pagi di bulan juli (2)

In Catatan Harian, Life on 25 September 2008 oleh manikmaya

Pagi dingin yang membalut sepi, kulangkah kaki menuju sebuah warung kopi. entahlah malam ini aku sulit tidur. serasa ada yang menggantung dipikiranku, dan aku pun tak tahu itu?. Ditepian jalan ketemukan tempat itu..tempat aku biasa malem-malem (kalo imsomniaku kambuh) menghabiskan waktu dengan nongkrong dan minum segelas kopi pahit, ditemani beberapa batang rokok, dan beberapa potong gorengan bala-bala (huhuy…bala-bala dwehh). ½ empat pagi, waktu menunjukan, ah masih terlalu pagi emang, aku terdiam.. kukepulkan asap rokokku keatas membentuk gumpalan asap serupa awan. Kulihat kemana perginya kepulan itu..perlahan dia naik…keatap terus naik keatas dan lalu lenyap ditelan udara…kulakukan itu berkali-kali, hingga tak terasa 2 batang rokok kuhabiskan. Tempat itu sunyi..sesunyi nuansa hati yang saat ini kurasakan. Emh..kopi sudah habis setengah gelas, gorenganku sudah habis 4..aku maseh termangu disana, menerawang kealam bayang yang tak kunjung padam. Hanya suara seseorang yang mampu membuyarkan lamunanku saat itu,..suara itu suara perempuan, sungguh merdu kurasakan suaranya dikeheningan

” punten kang,..bade pesen mie rebus”..suara perempuan itu mengagetkan. Rupanya itu ditujukan ke siakang penjual mie rebus itu.

“ough…mangga neng”..kata si akang

Aku menoleh padanya,..menoleh kearah suara barusan, melihat sepintas perempuan itu. Ehm cantik juga pikirku.

Perempuan itu melempar senyum padaku,…sebuah senyum yang menggoyang pendulum, ..dag dig dug hati sedikit kurasakan., kemudian perempuan itu duduk disampingku. Ehm,…aku diam mematung, mencoba melanjutkan aktivitas tadi yang aku lakukan, kali ini lebih pelan. .

Ku toleh lagi kesamping kananku, tempat dimana perempuan itu duduk, hmm.. aku menatapnya, dia diam..tiba-tiba dia menoleh padaku dan menatap wajahku.

Untuk sesaat kami saling tatap, hmm..pipiku memerah.. aku jadi merasa sedikit malu, karena ketauan sedang menatapnya,..tatapan lembutnya membuat aku terdiam.sementara jantungku berdegup kencang, kembali dia tersenyum padaku..uh…senyum yang meruntuhkan hati (hehehe…) aku membalas senyumnya. Ingin rasanya aku menyapanya,..tapi keberanianku belum muncul. Kami-kami sama terdiam,…hingga akhirnya kuberanikan diri menyapanya?…mhh

” bade angkat kamana teh?” aku memulai pembicaraan…perempuan itu menoleh padaku lagi, kembali senyum mengembang di bibirnya..

“mmhh..bade damel kang,” dia menjawabku lembut

“ough damel,.. meni nyubuh atuh teh, emang damel dimana?” aku bertanya lagi padanya

” ah biasa abdimah buburuh kang,…damel di kahatek” jawabnya

“ough..”..aku terdiam, namun benakku dipenuhi pertanyaan, hmm.. sepagi inikah dia berangkat kerja? Tak salahkah itu, jam 4 pagi?..

” biasa kang shift pagi” dia melanjutkan, seolah tahu apa yang aku pikirkan..

“ough..emang lebet tabuh sabaraha shift pagi?” aku bertanya lagi mencoba bersikap empati padanya

“tabuh setengah lima kang!” dia menjawab

” mangga ah neng di leet mie na” suara si akang penjual mie memotong pembicaraanku dengan perempuan itu.

” ough mangga kang, ditampi” jawab perempuan itu..

” mangga atuh kang..ngaleet heula nya”..perempuan itu menawariku..

” ough, mangga,..mangga” aku mempersilahkan

Aku tak mau mengganggu lagi dengan pertanyaanku, kasihan pikirku, mungkin itu sarapan pagi pertamanya. Aku kembali melanjutkan aktifitas merokokku, sambil sekali-kali melihat perempuan itu yang lagi makan. Nampaknya emang dya laper banget..kuperhatikan itu.

Pikirku menerawang, sepagi ini perempuan ini harus pergi berangkat kerja, sungguh sebuah hal yang mengundang empatiku. disaat orang lain masih lelap tertidur siteteh yang cantik ini sudah memulai harinya untuk berangkat kerja,..sebuah waktu kerja yang menurut pendapat pribadiku tidak normal. Ehm, tapi inilah realitanya hidup memang, sebuah hal yang tidak bisa aku tolak..demi sebuah perjuangan untuk hidup dia mesti bekerja dengan jadwal yang ditentukan oleh perusahaan itu.

Si Teteh bukan hanya seorang saja yang merasakan hal itu, tapi ratusan bahkan ribuan perempuan mengalami nasib yang sama. Kerja sebagai buruh kontrak yang memiliki waktu kerja hampir tidak terjadwal, sedih juga sebenarnya melihat kondisi kaum perempuan itu, memang kurang beruntung. Ada yang shift malem atao bahkan shift pagi sekali seperti siteteh cantik ini. Entahlah saya berpikir kadang emang dunia kerja itu tidak manusiawi, dengan berbagai alasannya para pengusaha kadang memperlakukan pekerja dengan seenak hatinya. Mmh.. suatu kondisi yang memprihatinkan memang, para kapitalis penguasa itu telah melakukan penindasan dan memperlakukan pekerjanya layaknya sebuah mesin,..mereka tak lain adalah sekrup-sekrup dari mesin uangnya kapitalis…hmm menyedihkan memang, sementara aku sendiri belum mampu berbuat apa-apa. Hanya sekedar meratapi dan mengurut dada.

Daerah rancaekek dan parakanmuncang memang adalah daerah urban, tempat berjubelnya pekerja industri (buruh pabrik). Sejak industrialisasi dimulai awal 90-an di daerah ini , maka bermunculanlah pekerja-pekerja dari berbagai daerah mengadu nasibnya disini. Dengan atau tanpa skill yang cukup mereka memaksakan bekerja. Hingga munculah kebijakan yang menurut saya cukup menggelikan dan juga tidak manusiawi. Kebijakan untuk menerapkan sistem kerja outsourching yaitu mempekerjakan tenaga kerja kontrak telah menyebabkan keuntungan yang luar biasa dipihak pengusaha. Pelaksanaan kebijakan ini bahkan dilakukan secara massif semua pekerja sekarang sisitemnya outsourcing (alias kontrak). Dengan sistem ini maka yang diuntungkan adalah pengusaha yang tidak perlu repot repot memikirkan dana pesangon kalo kontrak selesai atau phk muncul, tidak perlu repot-repot juga menyediakan uang THR, sementara para pekerja disedot habis-habisan tenaganya untuk kepentingan penguasaha itu. Tapi anehnya memang saat ini dengan kondisi seperti itu, bukanya berkurang bahkan justru kedatangan para pekerja/buruh industri disni tiap tahunya terus meningkat. Kondisi ekonomi memang menyebabakan semua orang lantas berpikir untuk bekerja apa adanya dan mau menerima kondisi yang ada walaupun dalam keadaan ketertindasan yang mereka rasakan..

Rancaekek di pagi hari tak ubahnya desingan suara mesin-mesin pabrik yang memecah sunyi…

dan saya bersyukur saya bukan bagian dari sekrup-sekrup yang menjalankan mesin itu, walapun tetap saja saya memiliki beban yang mungkin sama banyaknya dengan mereka.

Terimakasih ya Allah

Alhamdulillah

Parakanmuncang, Catatan sebuah pagi di bulan juli…

Post

Perempuan dalam cermin…

In Catatan Harian, Life, Satra on 25 September 2008 oleh manikmaya

Perempuan itu pergi. Kemana langkahnya aku tak tahu. aku memang sempat cemburu dengan kebebasannya. tapi kemudian aku sadari aku tak berhak apa apa padanya. Dia bebas untuk menentukan pilihan kemanapun dia pergi, dengan siapa, dan apa yang dilakukan. Toh siapa aku baginya?. Aku hanya seorang teman dan hanya sebatas teman tidak pernah lebih dari itu. Dan bagiku saat ini cukup arif rasanya bila aku berteman tanpa pamrih.

Mungkin saat ini yang bisa aku lakukan hanya mencoba memahaminya. Dan bagiku itulah proses pembebasannya. Memahami!

Walapun terkadang harus diakui aku terkadang susah untuk memahami, dan pemahamanku terhadapnya terbatas pada apa yang nampak dan hadir di inderaku

Aku teringat kata-kata itu “ laki-laki adalah tanda seru!, perempuan adalah tanda tanya?”

Mungkin itulah yang kurasakan pada sosoknya tanda tanya dan misteri tersembunyi. Sulit untuk ditebak dan sulit untuk dipastikan. Terkadang dia kokoh, kuat dan teguh tapi pada saat-saat tertentu dia lembek, cengeng dan juga manja.

Entahlah seakan itu menyatu dan aku bias dalam menentukan.

Dia datang sesaat lalu pergi lagi. Dan hanya sesaat itulah yang bisa aku coba pahami darinya.

Seperti sore ini, dia datang menghampiriku dengan wajah lesu dan capai. Ia nampak letih, kulihat itu dari aura tubuhnya.

Aku coba menerka apa yang tengah terjadi padanya. Mungkin saat ini dia lagi sakit pikirku, atau mungkin dia sedang bingung. Atau,….atau,..

Ah itulah sulitnya bila aku menerka-nerka. Dia menghampiriku dan diam disampingku mematung tak bicara. Sorot matanya nanar. Aku pun hanya diam mencoba tak mau memulai percakapan dengannya. Sekitar sepulah menit lamanya kami sama-sama diam.

Aku sendiri menerawang, pikirku dipenuhi berbagai pertanyaan? Sungguh aku saat ini sulit untuk membedakan dengan dirinya yang kemarin kulihat di stasiun, saat kami mau berpisah. Dia tegar, kokoh, sorot matanya tajam menembus, dan ceria.

“aku pergi!, sampai jumpa besok” kata itulah yang kemarin dan saat ini dia ucapkan padaku dalam nuansa yang berbeda. Antara kebahagian dan kesedihan

aku kaget, dan juga bingung sekaligus. Hingga aku hanya diam mematung menyaksikan ia pergi meninggalkanku sore ini.

Pertemuan singkat itu kembali terulang pagi ini ditempat biasa kami bertemu. Kali ini aku datang menghampirinya mencoba menyapanya lebih dulu.

“hai!, kamu bagaimana kabarnya?baik?” dia menyapaku lebih dulu dengan senyum lebar dan hangat di mukanya. Aku terdiam…>>>

Post

keping waktu

In Catatan Harian, Life, Satra on 24 September 2008 oleh manikmaya

Semakin jauh jarak kini kutempuh melewati ruang dan waktu yang tersisa, mencoba mengais setumpuk harapan yang masih ada walau mungkin kini sudah menjadi aus.

Hasratku berkata “Harus kulewati saat ini sepenuhnya, semoga esok akan tiba dengan terang!”.

Selalu ada yang menarik dalam kehidupan

Seolah menghentak kesadaran

Tak terasa memang guliran waktu menuntunku saat ini ketepi, setelah cukup kuarungi samudera kehidupan. Aku sendiri memang tak tahu, apakah ini memang saatnya ku berlabuh?. Aku masih belum yakin memang, saat ini jalan terbaik yang kupilih.

Entahlah benar atau tidak keputusanku untuk pergi, hingga aku berada disini saat ini di tengah laut lepas, diatas Kapal yang sebentar saja akan merapat di pelabuhan.

Detak jantung berpacu, seperti dendang

Desah nafas mengalun, seperti tembang.

Pada pandang pertama.

Mungkin inilah perjalanan pertamaku, dalam kehidupan yang sesungguhnya melewati hamparan daratan yang luas, menyeberang laut lepas, menggapai ujung menuju timur.

Menuruni kapal dengan keteguhan sekaligus kegalauan hati.

Jalan yang kupilih sepi, meski keramaian menyelimuti seluruh perjalanan, kutengok kiri dan kanan, aku merasa sendiri.

Semua orang bermain di dunianya sendiri. Dan bagiku saat ini duniaku adalah kebisuan.

Perempuan itu adalah aku, satu dari empat orang perempuan dalam perjalanan ini. Satu dari puluhan, ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan kaum perempuan di dunia ini. Hadir di sisi dunia, menyambut cerah dan gelapnya nuansa yang tercipta dari perputaran jagat raya.

Terbentang panjang menghampar

Seolah tiada ujung,

Tak ada awal

Aku memang tak pernah meminta untuk jadi perempuan, bahkan mungkin aku juga tak pernah minta untuk jadi seorang manusia. Sungguh kelahirankulah yang membuat aku seperti ini. Aku juga tak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia, kalau ada yang bersalah karena kulahir ke dunia, mereka adalah Ibu dan Ayahku dan juga Tuhan, kalau Ia memang benar-benar Ada!

Dan tak pernah kutemukan akhir

Bagaimana kubermula?

Hingga menjadi ada!

Seandainya ada waktu untuk memilih, aku tak mau jadi manusia, apalagi jadi seorang perempuan. Aku ingin menjadi Tuhan, tanpa jenis kelamin tentunya. Bukankah Tuhan selama ini berjenis kelamin laki-laki? -Kegilaanku semakin parah!>>>

Post

eksistensi

In Catatan Harian, Life, Satra on 24 September 2008 oleh manikmaya

Aku bertemu dengannya kemarin disebuah ruang tanpa waktu. Dia menyapa lembut menarikku pada satu batas maya dan realita. Dia begitu sempurna, begitu cerdas membuatku takjub. Pertemuan yang menarik tak pernah terbayang sebelumnya

Bila kau rindu, pejamkan mata

Sebut namaku tiga kali

Aku hadir disisimu

Pencarianku belum selesai tapi satu sisi telah kutemukan, kehadirannya. membuatku hidup.

Dia hadir bukan sekedar mimpi, tapi melebihi imaji yang pernah terlintas.

Ruang yang terbatas, waktu yang terhenti sementara, mempertemukan aku dengannya untuk yang pertama dalam kehidupan saat ini

Menemukan dan ditemukan itulah kehidupan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lainnya terkadang linear, dan terkadang siklis, terkadang juga zig-zag. Pada satu sisi itulah dialektika menembus ruang dan waktu yang bisu. Hitam dan putih adalah warna seperti kemilau jingga di merahnya senja .

Ketegaran sekaligus kelembutan, kecantikan dan kepintaran bersatu dalam satu sosok perempuan yang kehadirannya kutunggu sejak kelahiran.

Nyaris aku gila dengan kesadaran sepenuhnya bahwa dia Eksist dengan kebebasan dan keterikatannya pada dimensi .

mungkin saat ini aku berada di tepi dan telah kutemukan pantai harapan itu, tempatku menambatkan hidup. Pada suatu waktu perahu harus berlabuh.

Dan itulah pilihannya, kesadaranku menuntun pada keputusan untuk membebaskan diri dari suatu keterikatan pada ketakutan, kebencian,dan kesedihan. Menjadi Cinta, kedamaian dan kegembiraan

Seperti perjalanan Ibrahim dan juga Kierkard. Mencari tetapi ditemukan, menemukan tetapi dicari.Dalam rentang ruang, waktu dan juga dimensi. Pencarian sampai pada satu titik dan batas, dan bilakah transisi berakhir?, itulah saatnya engkau memilih dengan penuh kesadaran.

Dan perempuah itulah yang menuntunku ketepi lewat perjumpaan penuh makna di penghujung senja. Dialah Diva tempat Eksist dan Essens bertemu, berdialog dengan terbuka dan bebas, atas nama Cinta dan juga Keadilan.

Pembebasan adalah hakikat pertemuanku dengannya menjadi sama-sama setara dan juga berbeda. N Realy. Life is Beautiful! >>>

Sore itu aku kembali bertemu dengannya. Ketika ia menelpon sore hari ingin bicara denganku. Aku menghampirinya lembut, walau susah akhirnya memang ketemu :

<Mahesa_11> met sore

<Mahesa_11> kangen nih

<Perawan_Cinta> iya : )

* Perawan_Cinta bentar lagi balik Sa

<Mahesa_11> pulang ya

<Mahesa_11> kirain masih lama

<Perawan_Cinta> heeh

<Perawan_Cinta> tapi…buat kamuuuuuu ; p

<Perawan_Cinta> nggak pp deh

waktu itu relatif sepert relatifnya keinginan manusia terhadapnya, terkadang panjang terkadang pendek. Tapi hal itu juga relatif, toh semua kehidupan manusia relatif, yang pasti memang satu, Maut adalah Kepastian!!!, soal waktu, tunggu saja hingga saatnya tiba, pasti tiba.

Ruang, waktu, dimensi terhenti ketika kami bertemu seolah enggan mereka meninggalkan moment yang saat ini terjadi, seolah ingin menyimak dan menyaksikan pertemuan ini. Aku terpaku pada layar menyaksikan untaian kata yang kini berhamburan diantara kami hingga aku tersentak oleh pertanyaannya yang menusuk.

<Perawan_Cinta> kapan pertama kali jatuh cinta Sa?

<Mahesa_11> kelas satu smu

waktu kembali kebelakang, persis 4 tahun yang lalu. Pertemuan pertama yang mengguncang, saat debar pertama mendesirkan sumsum dan tulang. Menggelorakan darah dan memompa jantung kehidupan. Saat terkapar oleh senyuman..>

<Perawan_Cinta> : )

<Perawan_Cinta> umm sama kalo gitu

<Mahesa_11> yg bener2 jatuh cinta maksudku

<Perawan_Cinta> bertahan brapa lama cintanya

<Mahesa_11> nggak tahu sekarang udah nyampur rasanya

<Perawan_Cinta> nyampur gimana maksudnya?

<Mahesa_11> antara cinta dan benci

<Perawan_Cinta> knapa?

<Mahesa_11> aku tidak tahu apakah aku masih mencintainya.

Ruang seolah berputar, mencoba menghadirkan aku pada satu sisi, diam bisu tak bicara. Masih tergambar jelas sosok utuhnya, terutama binar matanya yang membawa cahaya kehidupan. Ruang dan waktu adalah sekeping mata uang pada sisi yang berlainan terkadang beroposisi, dan lebih banyak tunggal. Satu sisi melengkapi sisi yang lainnya. Terkadang berpencar dan mandiri. Menjadi keping-keping tunggal yang berbeda. Keping waktu dan keping ruang. Seperti Cinta dan Benci.

Apakah ada yang benar-benar tunggal?

Lebih sering setiap kehidupan adalah oposisi, dan mereka saling mengalahkan antara satu yang lainya menegaskan eksisitensinya dengan menegasikan lawannya

Cipaganti 2002

Post

elegi..

In Catatan Harian, Life, Satra on 15 September 2008 oleh manikmaya

untuk Neng Isti ;

Pertemuan itu masih menyisakan sesak, sesak yang dalam..

Banyak perubahan terjadi

…Masa telah mengantarkan kita ke gerbang itu, Kedewasaan mungkin…

Menertawakan kisah dulu yang pernah mewarnai…

Ada suka, gembira maupun duka dan sedih ..bercampur baur…

Tergores,…kenangan yang tidak mampu terlupa

Setidaknya, kau adalah yang pernah hadir dalam khayalku

Terlintas dalam hari-hari bisu..

dan harus kuakui,…aku terlena dalam perjalanan,

hingga sempat melupakanmu

Mengenalmu adalah jalan terbaik yang pernah aku tempuh

dan aku tak mau menghapus itu dalam benakku

Biarlah itu menjadi sebuah kisah tempatku kembali mengaca

Pada waktu dan ruang tempatku berpulang…

Rasa itu telah berubah..dan aku tak tahu apakah itu?,

..toh kita telah sama-sama mengalami perubahan..

Setidaknya pengalaman kita yang berbeda,

namun sama dalam ke-Universalan Cinta-Nya…

dan Tuhan pertemukan kita diujung jalan

Saat lurus dan menikung akan kutempuh,

Maafkan bila aku salah,

Bahwa kau merupakan hal yang khusus dalam hatiku, Ya!

Cinta selalu datang dan pergi

dan aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan kita dalam hari-hari kedepan

Mungkin benar katamu, hanya waktu yang bisa menjawab segalanya tentang kita,

tentang rasa ini…

Dan itu yang akan membuatku bertahan

Masih ada harapan buat hari esok

Walaupun mungkin hanya sedikit

Hidup adalah kemungkinan kan?.

Post

Let it flow…

In Catatan Harian, Life on 26 Juli 2008 oleh manikmaya

Sakitnya melahirkan tulisan,…itulah yang saya rasakan akhir-akhir ini. sudah sebulan lebih saya tidak posting atapun menulis sebuah tulisan disini dan rasanya saya merasakan kepala saya pening ( i got headache..hehehe) entahlah saya merasakan kemandegan akhir-akhir ini. seolah proses kreatif menulis saya seketika hilang ketika dihadapkan pada layar komputer…banyak draft tulisan sebenarnya yang telah saya tulis dan susun tetapi ketika saya baca ulang, kemudian saya merasa kurang cocok dengan tulisan saya, akhirnya saya urung untuk mempostingnya disini…

Kemarin saya iseng mengunjungi milist yang udah lama tidak saya kunjungi, meskipun saya salah seorang yang membuat milist tersebut..tapi saya sudah tidak terdaftar jadi anggotanya lagi (heheu password emailnya saya lupa lagi sih). ..saya buka tulisan-tulisan awal di milist tersebut. dan ternyata saya banyak menjumpai tulisan saya sendiri..saya baca-baca sebentar tulisan-tulisan saya sendiri itu,..saya serasa terlempar ke masa awal 2000-an. awal-awal masa kuliah saya yang penuh dengan idealisme dan ambisi, kejernihan ide,  maupun kegenitan intelektual saya,..saya sedikit bangga, sekaligus tertawa sendiri bila kembali mengingat masa-masa itu..masa saya bangga menjadi seorang aktivis, masa idealisme penuh berkobar…hal ini saya jumpai dalam sejumlah tulisan-tulisan yang tidak terdokumentasi oleh saya namun ada di milist ini. tulisan-tulisan dan ide yang jernih saya pikir, walaupun memang maseh nampak tulisan-tulisan saya semasa semester 1..

saya kemudian teringat dulu saya memang selalu kreatif menghasilkan sebuah ide ataupun pemikiran lalu menuangkannya ke dalam tulisan untuk dijadikan sebagai bahan diskusi, hal yang tidak saya lakukan akhir-akhir ini tentunya. senang sekali sebenarnya menjumpai dokumentasi tulisan itu, setidaknya saya bisa meraba sejauh mana pengembaraan intelektual saya sampai saat ini. saya menemukan kelebihan dan kekurangan dari tulisan-tulisan saya yang terdahulu, pun tulisan-tulisan saya hari ini. kekuatan utama tulisan saya di masa wal 2000-an adalah semangat dan idealisme yang masih jernih, dan optimisme awal mahasiswa ilmu politik, kekurangannya terletak pada bobot maupun kedalaman isi..sehingga saya maseh bisa menangkap tulisan tulisan itu maseh berada dalam latar permukaan saja dan terkadang masih utopis. sudahkan saya berubah sejauh ini?..saya menemukannya lewat sejumlah tulisan.

Perubahan adalah sebuah dinamika yang mesti terjadi, dan itulah yang saya alami, menelusuri jejak-jejak  langkah kebelakang yang telah saya lakukan saya semakin sadar saya banyak berubah..bukan hanya perubahan soal fisik saja tentunya tetapi juga soal pemikiran dan cara pandang dalam melihat sesuatu, meskipun saya pada prinsipnya sadar : saya adalah orang yang konsisten dengan ketidak konsistenan…(heheu..berat bahasanya bro). entahlah secara disadari atau tidak saya memang telah berubah, menuju kedewasaan? mungkin saja. bagi saya masa-masa idealisme itu menjadi cermin maupun pijakan bagi saya untuk kembali melangkah menemukan hakikat sejatinya perjalanan hidup saya..dan saya akan membiarkan tetap mengalir sendiri akhirnya, mengalir seperti air yang menuju muaranya …

let it flow…

saya percaya hidup adalah sebuah pilihan, dan pilihan-pilihan itulah yang menentukan siapa dan dimana posisi kita akhirnya?..dan saya akan biarkan pilihan itu mengalir begitu saja.. kemudian saya memilihnya, walaupun terkadang saya harus akui, jalan yang saya ambil tidak sepenuhnya membuat saya puas. saya kecewa? ya..sebagai manusia yang tidak luput dari khilap saya pernah kecewa, tapi itulah konsekwensi dari pilihan hidup saya. memilih dan menjadi..

Untuk saya saat ini, saya masih terbuka dengan kemungkinan, membiarkan segala pilihan untuk tetap mengalir apa adanya. saya akan memilih dan itu pasti… perubahan hanyalah soal waktu dan saya yakin itu..

Post

Toilet…I’m In Love!

In Life on 24 Juni 2008 oleh manikmaya

Neh ada tulisan keren neh diambil di Koki, simple tapi dalem neh tulisan ,..cukup inspirasional lah…hehe
Toilet I’m in Love
Sigit Kurniawan – Jakarta Barat

Castro couldn’t even go to the bathroom

unless the Soviet Union put the nickel in the toilet.

(Richard M Nixon)

Ini bukan sepotong roman cinta. Bukan pula kisah tandingan Eiffel I’m in Love yang kondang baik novel maupun filmnya itu. Ini kisah nyata tentang toilet. Tentang sebuah ruangan kecil yang di dalamnya teronggok benda yang kepadanya kita menggantungkan hidup kita. Setiap saat. Pagi. Siang. Sore. Malam. 24 jam.

Kisah ini juga tidak berlatar di Perancis. Negara dengan satu menara keajaiban dunia yang menjulang menembus langit Eropa itu.  Ini terjadi di sebuah kantor di Kelapa Gading, daerah langganan banjir di ibukota, tempat aku pernah bekerja beberapa tahun silam. Saat sebagian masyarakat sibuk dan berjubel antri membeli minyak tanah, karyawan di perusahaan ini sibuk antri masuk toilet. Pasti Anda heran. Asal tahu saja, satu dari tiga toilet kantor digembok dengan alasan kurang masuk di akal.

Oya, cerita ini tidak dimaksudkan untuk membuka ‘aib’ kantor itu. Toh, seluruh nama dan sebutan disamarkan di sini. Kisah ini juga tidak dimaksudkan untuk menurunkan selera makan para Kokiers di manapun Anda berada.  Baik yang makan nasi kucing, kentang, sagu, gudeg, burger, spaghetti, sandwich, pizza, salad, hot dog, bratwurst, corn flakes, kebab, dan sebagainya. Ini adalah kisah toilet. Kisah kehidupan.

“Ini akibat dari ulah kalian!” cetus seorang manager yang nimbrung makan siang kami di foodcourt basement sebuah mal.

“Halah, klasik banget. Kenapa digembok toiletnya?”
“Apa tidak ada cara manajemen yang lebih wise?”
“Toilet itu kotor. Banyak tisu. Pernah ada yang tidak menyiram. Noda sabun di mana-mana.”

“Bukannya memang rusak.”
“Iya, aku lihat Julia  naik turun tangga dengan tangan menggenggam pembalut. Sampai   di atas, masih harus ngantri. Jengkel, ia turun lagi.”
“Tutup saja semua toilet!”
“Kalo gitu, belikan kami pampers tiap hari!”

“Ini merupakan crime against humanity!”

Begitulah rekaman obrolan penuh seloroh di sela-sela makan siang. Obrolan ini sempat membuat lalu lintas makan jadi seret. Gumpalan daging ayam bakar bercampur sayur asem dan nasi seakan macet mendadak di kerongkongan. T-e-r-s-e-n-d-a-t. Sepertinya  satu gelas jus tomat pun tidak sanggup mendorongnya menuju lambung. Bukan jijik dengan toiletnya. Tapi dengan tindakan menggembok ruang tempat kami tiap hari melepas ampas-ampas biologis itu. Dongkol campur gemes. Kantor itu punya empat lantai. Toilet malang itu berada di lantai 4. Kantor ini dihuni oleh sekitar 60 mahkluk berkaki dua dan berjalan tegak yang bernama karyawan.

Ketiga toilet di kantor itu dilengkapi dengan si leher angsa dan tombol flush.  Toilet malang itu menjadi toilet paling besar.  Tapi, entah kenapa toilet ini sepertinya menjadi toilet favorit karyawan.

Saat toilet ini resmi ditutup, di dalam batok kepalaku terbayang pita plastik warna kuning milik kepolisian bertuliskan “Do Not Cross!” melingkari ruangan yang mendadak keramat itu. Seperti sebuah tempat kejadian perkara (TKP) di mana di ruangan itu baru saja terjadi pembunuhan sadis. Atau di ruangan itu, seorang pemuda tanggung ditemukan mati overdosis dengan jarum suntik masih menancap di lengan. Atau di ruangan itu, seorang nenek ditemukan tewas gantung diri. Dan sebagainya. Dan sebagainya.

Nah, di lantai 4, tersisa satu toilet kecil seluas 44 ubin persegi. Tepatnya, panjang 11 ubin dan lebar 4 ubin. Super sempit. Di depan leher angsa, ada satu ember dan gayung. Di ruangan mini inilah, kesabaran kami untuk antri diuji.

Para Kokiers, tentu tahu bagaimana rasanya kebelet e-ek. Hendra, seorang karib, pernah mengaku menggelepar kesakitan di lantai gara-gara toilet di rumahnya sedang dipakai mandi saudaranya. Padahal, isi perut sudah meronta-ronta dan mencapai titik kulminasi. “Rasanya, ingin tumpah saja,” katanya. Lalu Handi mengakui kenapa ia ngebut dengan sepeda motornya di jalan karena rasa ingin be-ol tak tertahankan. Bahkan, ia sempat tersiksa, saat tekanan itu muncul, ia terjebak macet dan tidak segera menemukan SPBU yang biasa dilengkapi dengan WC umum. Arman malah lebih jujur dengan mengaku pernah be-ol di celana. “Habis, ndak bisa nahan, sih,” katanya.  Aku sendiri pernah tersiksa saat berada di kereta kelas bisnis menuju Jogja. Saat itu, masa Lebaran. Ular besi itu dijejali oleh orang-orang urban dan udik yang pulang kampung. Lorong-lorong dan toilet kereta dipenuhi orang-orang itu. Walhasil, aku menahan sakit perut berjam-jam di perut kereta.

Be-ol, menurutku, adalah salah satu hak asasi manusia. Meski be-ol tidak dimasukkan secara tersurat dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia 10 Desember 1948.  Kegiatan ekskresi ini sudah ada sejak manusia diciptakan di Taman Eden. Bayangkan sendiri jika kita berhari-hari tidak bisa be-ol. Perut kita mual. Badan menciut bersama pucat. Layu. Paras jadi pasi. Langkah kaki pun jadi limbung. Sampah metabolisme itu kalau tidak dibuang justru akan menimbulkan penyakit. Kalau terlalu lama ngendhon di usur besar, mengeluarkannya pun susah. Ekstra tenaga. Bisa-bisa harus ‘cesar’ nih. Tentunya, aktivitas dan produktivitas kita juga akan terganggu. Nah, demi penghormatan HAM, negara, perusahaan, lembaga publik, sekolah, kantor, tempat ibadah, bandara, kereta api, kantor polisi, penjara, dan sebagainya harus menyediakan toilet yang layak pakai. Sok aktivis nih, ye!

Ruang Privat

Semua tentu setuju kalau toilet adalah ruang paling intim bagi kita. Seumum-umumnya WC, kalau kita sudah masuk dan mengunci pintu kamar kecil itu, kita masuk dalam kesendirian. Orang tidak mau diganggu saat di toilet. Orang lain pun tidak mau penciumannya terganggu oleh bau amoniak dari sampah biologis itu. Di sanalah, kita mendapatkan sensasi ekskresi yang very-very personal. Menekuk wajah. Memejamkan mata sejenak. Menyeringai. Lega. Puas. Mata berbinar.  Karena itu, panggung ‘konser plung-plung’ ini biasanya dibuat sedemikian privat, rapat, dan terkunci.

“Inilah saat-saat paling intim bagi saya. Kegiatan paling pribadi,” kata Ayu di ruang chatting. Lain lagi dengan Natalia, ibu muda yang sedang mengasuh bayi pertama usia empat bulan. Ia melihat toilet sebagai tempat hang out paling nyaman di rumah. “Toilet adalah tempatku istirahat dari menjaga anakku. Di sana, aku bisa senang hati berlama-lama, tanpa merasa berdosa,” akunya. Maklum juga Natalia melakukan itu. Tahu sendiri, orang yang mempunyai bayi di bawah lima bulan. Tiap malam harus begadang. Bangun. Menyusui. Ganti popok. And so forth.

Orang ingin senyaman mungkin saat beraktivitas di toilet. Di sana, orang kontak dengan dirinya sendiri. Dirinya apa adanya. Dari sisi paling baik yang sering ia tunjukkan pada orang lain sampai sisi paling buruk, paling kotor, dan paling jelek yang ia sembunyikan.  Toilet bisa menjadi ruang kejujuran. Untuk mendukung kenyamanan, orang bisa berak sambil membaca koran, novel, mendengarkan musik, nonton teve, mengetik di laptop, dan sebagainya. Bahkan, orang bisa bertahan satu jam di toilet untuk menegak kenyamanan.

Kini, toilet sudah multifungsi. Di sana, orang tidak hanya buang ampas. Konon, katanya, toilet bisa jadi ruang favorit untuk mencari inspirasi. Seorang kepala internal auditor di sebuah hotel di kawasan Thamrin, Jakarta mengaku ide-ide investigasi  briliannya  bisa muncul bak bintang jatuh bersamaan dengan jatuhnya ‘bom-bom’ amoniak ke lobang kakus. Bahkan, ada seorang kolega yang berseloroh. Katanya patung The Thinker (le Penseur) karya Auguste Rodin (1840-1917) yang berada di Musee Rodin Paris sebetulnya adalah patung seorang filsuf yang sedang merenung di atas kloset untuk menggelontorkan ide-ide filosofisnya. Wih, ngawur!

Ada-ada saja tingkah orang di toilet. Salah satunya corat-coret. Kreativitas dadakan ini sering kita temui jejaknya di toilet-toilet umum, di terminal bus, stasiun kereta, pasar, pom bensin, dan sebagainya. Dinding toilet penuh dengan grafiti. Lucu-lucu dan unik. Ada yang menorehkan tanda tangan, lengkap dengan tempat, tanggal, sekaligus nama terang. Mungkin ia terobsesi dengan penutup teks proklamasi: Jakarta, 17 Agustus 1945, Soekarno Hatta. Mungkin pula ia terobsesi jadi bupati yang doyan membubuhkan tanda tangan di batu prasasti setiap usai meresmikan gedung pertemuan.

Ada lagi yang jatuh cintrong. Misalnya, “Seto-gambar hati-Mumun.” Bisa jadi, ia seorang yang ingin jujur bahwa ia gandrung pada Mumun. Tapi tidak punya nyali untuk mengungkapkannya empat mata. Ada lagi yang melakukan demonstrasi diam-diam di dalam toilet dengan menulis “Fuck U Soeharto!” Mungkin karena takut pantatnya kena peluru karet atau kepalanya bocor oleh pentungan aparat, mendingan ia mengumpat dan curhat di toilet. Apalagi, tidak ada gunanya lagi teriak-teriak di jalanan nan panas dan berdebu karena tidak ada yang mendengarkan. Lebih baik di toilet sambil ngadem. Ada lagi yang patah hati dengan menulis “Jangan tinggalkan akang, neng!” Dan sebagainya. Dan sebagainya. Sayang sekali, kreativitas ini malah bikin toilet kotor. Jorok. Kumuh. Tidak nyaman.

Sejarah Toilet

Gemes soal toilet mendorongku mencari tahu sejarah toilet. Ya, sambil menyelam minum airlah. Biar hati dongkol, pengetahuan tetap harus bertambah. Kususuri lorong-lorong Google dan kutemukan beberapa data benda ajaib  ini. Konon, pada abad ke-25 SM, warga Harappa di India punya toilet di setiap rumah. Masing-masing toilet dihubungkan dengan saluran air dari batu bata. Toilet juga ditemukan pada peradaban Mesir dan Tiongkok kuno. Di Romawi kuno, toilet biasanya menyatu dengan tempat permandian umum. Saat itu, orang-orang tidak merasa malu menggunakan toilet di ruang umum ini. Hmmm, bisa dibayangkan bila bisa bertoilet bersama dengan putri Cleopatra. Baru sekitar tahun 200 SM, warga Roma mulai menyadari pentingnya mempunyai toilet pribadi. Cek,cek, cek, ternyata toilet sudah ada sejak zaman baheula!

Toilet dengan gaya modern ditemukan oleh Sir John Harington tahun 1596. Toilet ini dipopulerkan di Inggris pada zaman Victoria. Pada tahun 1738, JF Brondel memperkenalkan toilet dengan katup pembilasan (flush). Alexander Cummings memperkenalkan varian yang mampu menghalau bau busuk toilet. Pada tahun 1777, Joseph Preiser membuat toilet lengkap dengan katup dan engkol. Toilet pun terus berevolusi dari generasi ke generasi seperti dalam bentuknya sekarang, dari yang berada di terminal bus sampai di hotel bintang lima.

Reuters pernah memberitakan China dan Inggris bersitegang soal klaim sejarah toilet paling tua. Para arkeolog China mengklaim bahwa toilet temuan Inggris masih kalah tua dengan yang ada di Negeri Tirai Bambu itu. Konon, toilet tertua ditemukan sejak zaman Dinasti Han. Tepatnya, di makam seorang raja pada masa dinasti itu. Toilet ditemukan di Shangqiu di provinsi Henan.

Bagiku sih, tidak penting siapa yang menciptakan toilet. Yang penting ada servis  toilet yang bersih dan layak bagi siapa saja.  Kisah ini aku tutup dengan ungkapan seorang teman atas tulisan ini. “Kesejahteraan dan kemakmuran kadang tidak diukur dari seberapa kinclong mobil, apartemen, atau gandengan seseorang. Tapi, cukup sejengkal tanah berlobang untuk buang hajat,” katanya.

Maaf, saya mau ke toilet dulu! Hasta la vista