Arsip untuk ‘Satra’ Kategori

Post

Kemilau jingga di merahnya senja…

In Catatan Harian, Filsafat, Life, Satra on 25 September 2008 oleh manikmaya

hmm..begitu sulit untuk menulis, lama juga tak posting di blog . ada semacam kekangenan untuk menulis kembali. namun saya merasa tidak punya apapun untuk dituliskan. header tulisan ini mungkin terlihat sedikit gagah ato barangkali terlihat sedikit puitis. entahlah saya hanya menulis header sesuai keinginan saja, entah itu relevan dengan isi tulisan? saya tidak tahu…toh ini hanya sebuah header bukan sebuah hal yang mesti diperdebatkan…saya hanya ingin menulis dan saya yakini setiap penulis memiliki kebebasan untuk menuangkan kreasi yang ditulisnya sesuai dengan keinginan, lepas dari relevan atau tidaknya isi header dengan tulisan tersebut.

Saya jadi teringat  dulu dengan sebuah buku yang menurut saya sangat unik dan kreatif. judul buku itu adalah Vagina Kosong. hmm..saya tertarik dengan buku itu bukan karena persoalan judulnya yang berjudul Vagina (maaf), tetapi ketertarikan saya ini dilandasi oleh ketertarikan saya pada sebuah  buku puisi yang pada waktu itu ramai dibaca dan diperbincangkan oleh kaum feminis. Vagina Monologue, setidaknya itu adalah sebuah ekpresi feminis mengenai identitas dan jatidiri perempuan yang diperlambangkan dengan organ genital yaitu vagina.  hmm..kembali ke buku vagina kosong yang saya peroleh..dari teman saya dulu yang seorang aktivis PMII, saya justru kagum dengan apa yang ada dibuku itu,.. buku itu ternyata benar- benar kosong..tidak ada tulisan apapun kecuali sebuah header ;

buku ini kosong, silahkan anda tulis sendiri isi buku ini…

hahaha..saya ngakak ketika baca tulisan itu, saya buka semua keseluruhan halaman dibuku itu..ternyata benar-benar kosong saudara saudara..tapi it’s amazing menurut saya, kreatif…memang sejatinya menurut saya pribadi untuk menyampaikan sebuah pesan atau sebuah hal yang ingin kita sampaikan ngak perlu juga nulis sebuah hal yang macam-macam, atau tidak perlu juga kita pikirkan relevan enggaknya tulisan itu…toh pada akhirnya karya itu sebagai sebuah hal yang fenomenologis akan berbicara sendiri…, bukankah kekosongan adalah sebuah hal yang eksis??  dan silahkan menafsirkan kekosongan dengan pikiran anda masing-masing. seperti halnya tulisan ini “Kemilau jingga di merahnya senja..” silahkan definisikan atau pikirkan oleh anda arti ” kemilau jingga di merahnya senja..”.

akan ada berbagai macam deskripsi dan definisi yang anda berikan terhadapnya..dan saya merasa itu sah-sah saja. masing-masing individu berhak menilai, mengapresiasi bahkan menghakimi sebuah teks..karena teks itu meski mati…ia akan senantiasa ada pada aras konteks yang dijalaninya. saya jadi inget kata Nietszche..” Tak ada fakta,..yang ada hanyalah tafsir!!”.  jadi silahkan anda menafsrkan tidak ada larangan toh ini bukan sebuah teks kitab suci. meskipun saya sebagai pribadi meyakini, bahkan sebuah teks kitab suci itu sendiri adalah sebuah hal yang bersifat multi tafsir..dimana orang dengan berbagai kapasitasnya bisa menafsirkan sendiri teks itu..toh pintu bagi menafsir dan berijtihad itu tidak pernah tertutup. karena sejatinya kebenaran akan selalu ada dalam tiap masa.

Saya lantas jadi teringat pada film Laskar Pelangi yang minggu kemaren saya tonton dengan seorang teman, mhh..nice movie saya pikir, saya tau bahwa membuat film dari sebuah novel akan sangat sulit..masalahnya ada pada bentuk tafsir itu tadi,..sulit sebenarnya untuk mendeskripsikan sebuah teks ke dalam bentuk gambar apalagi dibatasi oleh durasi waktu..tapi bagaimanapun saya mengapresiasi karya itu. sebagai tafsir terhadap sebuah teks, saya pikir film itu berhasil menghadirkan pesan yang ingin disampaikan oleh novelnya…

tafsir terhadap sebuah teks, karya, atau pemikiran  tak ubahnya sebuah kemilau di merahnya senja..(haha…nyambung ngak?)..sebuah keberanian dalam menafsir adalah sebuah kemilau,..sebuah hal yang patut diapresiasi oleh siapapun..pada akhirnya teks itu akan berbicara dengan sendirinya seperti halnya  sebuah Kemilau di merahnya senja…

Post

Illuminata

In Catatan Harian, Life, Satra on 25 September 2008 oleh manikmaya

Kadang tidak bijaksana tahu terlalu banyak

Hidup penuh kesenangan yang menimbulkan rasa haus bukan?

Percuma saja berfikir baik maka aku berhenti berfikir baik

Terkadang bias antara realita dan drama

Hidup adalah sepotong adegan dari sebuah drama

Terkadang cinta membuat kita gila

Gilakah bila kita terlalu mencintai?

Ketika aku terjaga aku menangis pada mimpi lagi

Aku ingin Mengubah momen menjadi sesuatu yang berfijar

Aku diajak berdialog dengan realita

Dengan diriku sendiri

Dalam perjalananku

Cinta adalah eksistensi

Aku bisa berubah

Aku akan berubah!

Cinta membuat kita diam

Merasakan kehangatan dalam sepi

Mengggetarkan jiwa yang terluka

Cinta adalah perasaan terdalam yang dapat menyatukan kita dalam waktu

Kebebasan yang sebenarnya adalah tidak memiliki kesombongan

Aku mengingatmu disini istriku, aku mencintaimu!

Aku bisa merasakanmu

Aku tahu

Merasakan lembut kulitmu

Aku ingin menyentuhmu

Tidak ada Aku!

Tidak, Bukan Kau!

Kita hidup dari satu panggung ke panggung yang lainnya

Dunia adalah komedi bagi orang yang berpikir

Dunia adalah tragedi bagi orang yang merasakan

Aku tahu

Aku tak mampu mencintaimu

sedalam yang mampu kau lakukan!

Aku ingin pergi bersama angin

Aku hanya ingin pergi kedepan

Melangkah kedepan

Dengan pasti

Bahwa ku mencintaimu

Walau kutahu

Aku takkan mampu memilikimu

Setiap jam dalam hidup punya nilai tersendiri

Kau adalah temanku,istriku, hidupku!

Aku lahir tak sempurna

Dididik tak sempurna

Dipelihara tangan-tangan tak sempuna

Bila kau mencari orang yang tak sempuna

Akulah orangnya

Bila kau mencari orang yang mencintai orang tak sempuna lainnya

Akulah orangnya!

(From movies, Illuminata, Transtv)

Post

Perempuan dalam cermin…

In Catatan Harian, Life, Satra on 25 September 2008 oleh manikmaya

Perempuan itu pergi. Kemana langkahnya aku tak tahu. aku memang sempat cemburu dengan kebebasannya. tapi kemudian aku sadari aku tak berhak apa apa padanya. Dia bebas untuk menentukan pilihan kemanapun dia pergi, dengan siapa, dan apa yang dilakukan. Toh siapa aku baginya?. Aku hanya seorang teman dan hanya sebatas teman tidak pernah lebih dari itu. Dan bagiku saat ini cukup arif rasanya bila aku berteman tanpa pamrih.

Mungkin saat ini yang bisa aku lakukan hanya mencoba memahaminya. Dan bagiku itulah proses pembebasannya. Memahami!

Walapun terkadang harus diakui aku terkadang susah untuk memahami, dan pemahamanku terhadapnya terbatas pada apa yang nampak dan hadir di inderaku

Aku teringat kata-kata itu “ laki-laki adalah tanda seru!, perempuan adalah tanda tanya?”

Mungkin itulah yang kurasakan pada sosoknya tanda tanya dan misteri tersembunyi. Sulit untuk ditebak dan sulit untuk dipastikan. Terkadang dia kokoh, kuat dan teguh tapi pada saat-saat tertentu dia lembek, cengeng dan juga manja.

Entahlah seakan itu menyatu dan aku bias dalam menentukan.

Dia datang sesaat lalu pergi lagi. Dan hanya sesaat itulah yang bisa aku coba pahami darinya.

Seperti sore ini, dia datang menghampiriku dengan wajah lesu dan capai. Ia nampak letih, kulihat itu dari aura tubuhnya.

Aku coba menerka apa yang tengah terjadi padanya. Mungkin saat ini dia lagi sakit pikirku, atau mungkin dia sedang bingung. Atau,….atau,..

Ah itulah sulitnya bila aku menerka-nerka. Dia menghampiriku dan diam disampingku mematung tak bicara. Sorot matanya nanar. Aku pun hanya diam mencoba tak mau memulai percakapan dengannya. Sekitar sepulah menit lamanya kami sama-sama diam.

Aku sendiri menerawang, pikirku dipenuhi berbagai pertanyaan? Sungguh aku saat ini sulit untuk membedakan dengan dirinya yang kemarin kulihat di stasiun, saat kami mau berpisah. Dia tegar, kokoh, sorot matanya tajam menembus, dan ceria.

“aku pergi!, sampai jumpa besok” kata itulah yang kemarin dan saat ini dia ucapkan padaku dalam nuansa yang berbeda. Antara kebahagian dan kesedihan

aku kaget, dan juga bingung sekaligus. Hingga aku hanya diam mematung menyaksikan ia pergi meninggalkanku sore ini.

Pertemuan singkat itu kembali terulang pagi ini ditempat biasa kami bertemu. Kali ini aku datang menghampirinya mencoba menyapanya lebih dulu.

“hai!, kamu bagaimana kabarnya?baik?” dia menyapaku lebih dulu dengan senyum lebar dan hangat di mukanya. Aku terdiam…>>>

Post

keping waktu

In Catatan Harian, Life, Satra on 24 September 2008 oleh manikmaya

Semakin jauh jarak kini kutempuh melewati ruang dan waktu yang tersisa, mencoba mengais setumpuk harapan yang masih ada walau mungkin kini sudah menjadi aus.

Hasratku berkata “Harus kulewati saat ini sepenuhnya, semoga esok akan tiba dengan terang!”.

Selalu ada yang menarik dalam kehidupan

Seolah menghentak kesadaran

Tak terasa memang guliran waktu menuntunku saat ini ketepi, setelah cukup kuarungi samudera kehidupan. Aku sendiri memang tak tahu, apakah ini memang saatnya ku berlabuh?. Aku masih belum yakin memang, saat ini jalan terbaik yang kupilih.

Entahlah benar atau tidak keputusanku untuk pergi, hingga aku berada disini saat ini di tengah laut lepas, diatas Kapal yang sebentar saja akan merapat di pelabuhan.

Detak jantung berpacu, seperti dendang

Desah nafas mengalun, seperti tembang.

Pada pandang pertama.

Mungkin inilah perjalanan pertamaku, dalam kehidupan yang sesungguhnya melewati hamparan daratan yang luas, menyeberang laut lepas, menggapai ujung menuju timur.

Menuruni kapal dengan keteguhan sekaligus kegalauan hati.

Jalan yang kupilih sepi, meski keramaian menyelimuti seluruh perjalanan, kutengok kiri dan kanan, aku merasa sendiri.

Semua orang bermain di dunianya sendiri. Dan bagiku saat ini duniaku adalah kebisuan.

Perempuan itu adalah aku, satu dari empat orang perempuan dalam perjalanan ini. Satu dari puluhan, ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan kaum perempuan di dunia ini. Hadir di sisi dunia, menyambut cerah dan gelapnya nuansa yang tercipta dari perputaran jagat raya.

Terbentang panjang menghampar

Seolah tiada ujung,

Tak ada awal

Aku memang tak pernah meminta untuk jadi perempuan, bahkan mungkin aku juga tak pernah minta untuk jadi seorang manusia. Sungguh kelahirankulah yang membuat aku seperti ini. Aku juga tak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia, kalau ada yang bersalah karena kulahir ke dunia, mereka adalah Ibu dan Ayahku dan juga Tuhan, kalau Ia memang benar-benar Ada!

Dan tak pernah kutemukan akhir

Bagaimana kubermula?

Hingga menjadi ada!

Seandainya ada waktu untuk memilih, aku tak mau jadi manusia, apalagi jadi seorang perempuan. Aku ingin menjadi Tuhan, tanpa jenis kelamin tentunya. Bukankah Tuhan selama ini berjenis kelamin laki-laki? -Kegilaanku semakin parah!>>>

Post

eksistensi

In Catatan Harian, Life, Satra on 24 September 2008 oleh manikmaya

Aku bertemu dengannya kemarin disebuah ruang tanpa waktu. Dia menyapa lembut menarikku pada satu batas maya dan realita. Dia begitu sempurna, begitu cerdas membuatku takjub. Pertemuan yang menarik tak pernah terbayang sebelumnya

Bila kau rindu, pejamkan mata

Sebut namaku tiga kali

Aku hadir disisimu

Pencarianku belum selesai tapi satu sisi telah kutemukan, kehadirannya. membuatku hidup.

Dia hadir bukan sekedar mimpi, tapi melebihi imaji yang pernah terlintas.

Ruang yang terbatas, waktu yang terhenti sementara, mempertemukan aku dengannya untuk yang pertama dalam kehidupan saat ini

Menemukan dan ditemukan itulah kehidupan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lainnya terkadang linear, dan terkadang siklis, terkadang juga zig-zag. Pada satu sisi itulah dialektika menembus ruang dan waktu yang bisu. Hitam dan putih adalah warna seperti kemilau jingga di merahnya senja .

Ketegaran sekaligus kelembutan, kecantikan dan kepintaran bersatu dalam satu sosok perempuan yang kehadirannya kutunggu sejak kelahiran.

Nyaris aku gila dengan kesadaran sepenuhnya bahwa dia Eksist dengan kebebasan dan keterikatannya pada dimensi .

mungkin saat ini aku berada di tepi dan telah kutemukan pantai harapan itu, tempatku menambatkan hidup. Pada suatu waktu perahu harus berlabuh.

Dan itulah pilihannya, kesadaranku menuntun pada keputusan untuk membebaskan diri dari suatu keterikatan pada ketakutan, kebencian,dan kesedihan. Menjadi Cinta, kedamaian dan kegembiraan

Seperti perjalanan Ibrahim dan juga Kierkard. Mencari tetapi ditemukan, menemukan tetapi dicari.Dalam rentang ruang, waktu dan juga dimensi. Pencarian sampai pada satu titik dan batas, dan bilakah transisi berakhir?, itulah saatnya engkau memilih dengan penuh kesadaran.

Dan perempuah itulah yang menuntunku ketepi lewat perjumpaan penuh makna di penghujung senja. Dialah Diva tempat Eksist dan Essens bertemu, berdialog dengan terbuka dan bebas, atas nama Cinta dan juga Keadilan.

Pembebasan adalah hakikat pertemuanku dengannya menjadi sama-sama setara dan juga berbeda. N Realy. Life is Beautiful! >>>

Sore itu aku kembali bertemu dengannya. Ketika ia menelpon sore hari ingin bicara denganku. Aku menghampirinya lembut, walau susah akhirnya memang ketemu :

<Mahesa_11> met sore

<Mahesa_11> kangen nih

<Perawan_Cinta> iya : )

* Perawan_Cinta bentar lagi balik Sa

<Mahesa_11> pulang ya

<Mahesa_11> kirain masih lama

<Perawan_Cinta> heeh

<Perawan_Cinta> tapi…buat kamuuuuuu ; p

<Perawan_Cinta> nggak pp deh

waktu itu relatif sepert relatifnya keinginan manusia terhadapnya, terkadang panjang terkadang pendek. Tapi hal itu juga relatif, toh semua kehidupan manusia relatif, yang pasti memang satu, Maut adalah Kepastian!!!, soal waktu, tunggu saja hingga saatnya tiba, pasti tiba.

Ruang, waktu, dimensi terhenti ketika kami bertemu seolah enggan mereka meninggalkan moment yang saat ini terjadi, seolah ingin menyimak dan menyaksikan pertemuan ini. Aku terpaku pada layar menyaksikan untaian kata yang kini berhamburan diantara kami hingga aku tersentak oleh pertanyaannya yang menusuk.

<Perawan_Cinta> kapan pertama kali jatuh cinta Sa?

<Mahesa_11> kelas satu smu

waktu kembali kebelakang, persis 4 tahun yang lalu. Pertemuan pertama yang mengguncang, saat debar pertama mendesirkan sumsum dan tulang. Menggelorakan darah dan memompa jantung kehidupan. Saat terkapar oleh senyuman..>

<Perawan_Cinta> : )

<Perawan_Cinta> umm sama kalo gitu

<Mahesa_11> yg bener2 jatuh cinta maksudku

<Perawan_Cinta> bertahan brapa lama cintanya

<Mahesa_11> nggak tahu sekarang udah nyampur rasanya

<Perawan_Cinta> nyampur gimana maksudnya?

<Mahesa_11> antara cinta dan benci

<Perawan_Cinta> knapa?

<Mahesa_11> aku tidak tahu apakah aku masih mencintainya.

Ruang seolah berputar, mencoba menghadirkan aku pada satu sisi, diam bisu tak bicara. Masih tergambar jelas sosok utuhnya, terutama binar matanya yang membawa cahaya kehidupan. Ruang dan waktu adalah sekeping mata uang pada sisi yang berlainan terkadang beroposisi, dan lebih banyak tunggal. Satu sisi melengkapi sisi yang lainnya. Terkadang berpencar dan mandiri. Menjadi keping-keping tunggal yang berbeda. Keping waktu dan keping ruang. Seperti Cinta dan Benci.

Apakah ada yang benar-benar tunggal?

Lebih sering setiap kehidupan adalah oposisi, dan mereka saling mengalahkan antara satu yang lainya menegaskan eksisitensinya dengan menegasikan lawannya

Cipaganti 2002

Post

elegi..

In Catatan Harian, Life, Satra on 15 September 2008 oleh manikmaya

untuk Neng Isti ;

Pertemuan itu masih menyisakan sesak, sesak yang dalam..

Banyak perubahan terjadi

…Masa telah mengantarkan kita ke gerbang itu, Kedewasaan mungkin…

Menertawakan kisah dulu yang pernah mewarnai…

Ada suka, gembira maupun duka dan sedih ..bercampur baur…

Tergores,…kenangan yang tidak mampu terlupa

Setidaknya, kau adalah yang pernah hadir dalam khayalku

Terlintas dalam hari-hari bisu..

dan harus kuakui,…aku terlena dalam perjalanan,

hingga sempat melupakanmu

Mengenalmu adalah jalan terbaik yang pernah aku tempuh

dan aku tak mau menghapus itu dalam benakku

Biarlah itu menjadi sebuah kisah tempatku kembali mengaca

Pada waktu dan ruang tempatku berpulang…

Rasa itu telah berubah..dan aku tak tahu apakah itu?,

..toh kita telah sama-sama mengalami perubahan..

Setidaknya pengalaman kita yang berbeda,

namun sama dalam ke-Universalan Cinta-Nya…

dan Tuhan pertemukan kita diujung jalan

Saat lurus dan menikung akan kutempuh,

Maafkan bila aku salah,

Bahwa kau merupakan hal yang khusus dalam hatiku, Ya!

Cinta selalu datang dan pergi

dan aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan kita dalam hari-hari kedepan

Mungkin benar katamu, hanya waktu yang bisa menjawab segalanya tentang kita,

tentang rasa ini…

Dan itu yang akan membuatku bertahan

Masih ada harapan buat hari esok

Walaupun mungkin hanya sedikit

Hidup adalah kemungkinan kan?.

Post

pagi di bulan juli..

In Satra on 13 September 2008 oleh manikmaya

..gerimis menyapa pagi,

dalam dingin yang membeku

langkah kaki tertatih, mencoba tuk meraih

sejumput asa dalam masa,

sebuah pagi di bulan juli

Post

hidup yang tidak biasa…

In Catatan Harian, Life, Satra on 4 Juni 2008 oleh manikmaya

Minggu kemaren saya teringat seseorang,..seseorang yang begitu berarti bagi saya. walaupun sebenarnya tidak pernah saya sadari sebelumnya. ia memang hadir selintas dalam hidup saya, menjelma dalam warna-warni hidup yang dinamakan Cinta,..ah sayang memang kehadiranya sebentar, tapi dari yang sebentar itulah saya dapat pelajaran berarti,..belajar arti tentang memahami, tentang sedikit makna eksistensi.

Kini saya hanya bisa terkenang, akan perjumpaan pertama yang biasa,..tentang rindu yang hadir tiba-tiba memukul rasa,…tentang gelora menggebu serupa asmara,..dan saat itu saya alpa, terlena dalam buaian citra , lalu larut dalam jelaga keanehan relasi..

Ia ada, pada saat-saat terakhir kehadirannya, menyapa lewat kata-kata,..memeluk dalam bait-bait nada, dalam prosa-prosa lirih yang ia tulis,..dalam hamburan puisi yang ia saji terakhir kali,..saya mati!, ah hidup ini memang tidak biasa..ada saat-saat kita lelah dan terjatuh..ada saat kita bangkit dan berontak…saya hanya menjalani hidup apa adanya..mencoba menjejak realita. mungkin saat itu, saat kehilangan yg besar bagi saya, tapi i know life must go on…

hidup memang bukanlah hal yang biasa..ia adalah dinamika yang lebih sering tidak terencana..seperti lahir, sekolah, kerja, menikah, punya anak dan lalu mati..ah sederhana sekali nampaknya. Realitanya ?..hidup adalah kompleksitas yang tidak pernah bisa kita raba secara tegas. pertemuan adalah sebuah awal dari lahirnya perpisahan, dan kematian adalah sebuah kelahiran baru yang mesti kita jelang..sebaliknya juga. Cinta?..adalah sebuah dinamika dari kehidupan, yang senantiasa bergerak dalam aras yang dinamakan waktu,..ia bisa datang dan lalu pergi, merobek hati lalu menumbuhkannya kembali.

hidup adalah panggung dimana peran-peran dimainkan. tragedi maupun komedi, romansa ataupun derita ia hadir melewati aneka citra..tidak hanya sekedar bayang-bayang ataupun mimpi..ah..rumit! terlalu rumit mendefenisikannya,..terlalu sederhana untuk kita jabarkan..hidup merupakan dua sisi antara kesederhanaan dan kompleksitas..semuanya saling terkait..

yup..saya sepakat betapapun hidup adalah hal yang tidak biasa, kita dapat belajar untuk terus senantiasa menjalaninya..tidak ada kata menyerah..apalagi kalah lalu mati!, kesedihan, kepedihan, kegagalan, perpisahan adalah sebuah pengalaman yang harus kita jalani untuk dapat merasakan sejatinya makna.

menjadi sukses ataupun gagal..bukanlah akhir dari semuanya..ia hanya bagian dari kehidupan kita, kepingan puzzle yang bisa kita susun untuk mendeskripsikan siapa kita akhirnya.. menemukan dan terkadang ditemukan itulah realitanya..jalan dan pilihan yang senantiasa bisa kita nikmati dan cermati

dan saya memang telah memilih sebuah jalan,..hidup yang tidak biasa.

Saya percaya, hidup itu tak mesti selalu dimenangkan,..tetapi harus diperjuangkan!

Haha…(simple but complicated!)

just do it!

Post

Sang Pemimpi

In Catatan Harian, Life, Satra on 19 Mei 2008 oleh manikmaya

seminggu ini saya sedang mengkhatamkan novel sang pemimpi..(Novel Tetraloginya Laskar Pelangi). entahlah saking asyiknya baca terkadang saya lupa waktu, novel ini memang begitu cerdas mengeksplorasi sisi kemiskinan realitas keseharian masyarakat kita yang memang maseh terbelakang dalam dunia pendidikan..sedih campur aduk juga sie…ada rasa haru sekaligus juga semangat…

hehhe..jd inget mimpi saya sebenarnya..dulu waktu kecil saya bermimpi jadi pilot, mau jd seperti Habibie sie waktu itu. maklum habibbie adalah tokoh idola saat itu, Habibie adalah superidol. jd inget juga perjuangan untuk sekolah, bagi kami anak-anak kampung yang berusaha sekolah. dari segi fasiltas tentu saja jauh banget dari sekolah-sekolah kota. sekolah SD saya misalnya, sekolah yang ngak tau jelas kapan dibangunnya, merupakan sekolah dengan bangunan tua yang rapuh..atap sekolah dipenuhi debu pasir galunggung hasil letusan tahun 1981 (ngak tau seh tahun 1987 debunya maseh numpuk tuh di atap) kursi dan bangku sudah pada keropos, sekali duduk langsung ancur berantakan..buku paket pelajaran nyaris ngak ada, kalopun ada itu adalah buku bekas lama yang udah tua dan lapuk itu juga bekas gigitan tikuss,..Sekolah SD kami ada ditengah sawah yang kadang kala kalo hujan atau sawahnya sedang diolah jalan menuju kesana jd becek dan berlumpur..tak jarang atau pun seringkali aku ke sekolah hanya memakai sendal jepit. males juga kalo kaki belepotan dengan lumpur.

emang realiatasnya kaya gituh, padahal menurutku seh daerahku ngak kampung2 amat lah cuma setengah jam koq dari kota Garut..tapi aneh pemerintah serasa tidak peduli. bahkan sekali waktu pernah kami merasakan belajar dilapangan sekolah, gara-garanya sekolah kami kebakaran, waktu itu emang musim panen jd banyak jerami kering yang mengitari sekolah sd kami..ngak tau sapa yang bakar jerami yang jelas akhirnya Sekolah SD kami ikut terbakar, tiga kelas hancur lebur. jadi deh waktu itu aku yang maseh kelas 3 SD kalo ngak salah merasakan belajar dilapangan sekolah dengan tenda dan papan tulis ala kadarnya. kami duduk lesehan dilapangan..ada sedih sekaligus gembira seh bagi aku yg maseh belum ngerti kondisi saat itu. sedih karena kami belajar dengan tidak cukup nyaman,..gembira karena kami emang sudah lama merasakan sumpek dengan kelas kami, dan akhirnya tercapai juga sie renovasi sekolah yg kami harapkan itu. sumpe, emang bego tuh pemerintah, baru kalo udah kejadian kebakaran baru tanggap itu juga dengan dana seadanya yang aku yakin itu pasti dikorupsi. Ya..ya dengan uang seadanya dan partisipasi orang di kampungku 3 bulan kemudian kelasku sudah bisa berdiri lagi..bayangkan kami harus menunggu 3 bulan untuk dapat kelas baru, dan selama 3 bulan itu aku sama kawanku belajar dilapangan…tapi ada satu sisi yang aku banggakan saat itu bahwa kami masih memiliki semangat untuk belajar walau dengan keadaan serba terpaksa..mungkin karena Mimpi-mimpi besar kami masing-masing yang membuat kami terus bertahan dengan keadaan dan keterpaksaan.

waktu SMP ceritanya lain lagi,..memang rumahku lumayan jauh dari sekolah, dulu didaerah kami belum ada ojek yang ada hanyalah angkutan delman yang murah meriah, tiap hari aku ke sekolah naek delman..tapi tak jarang pula kalo lagi ngak punya duit  aku jalan kaki sejauh 8 km PP ke sekolah, ngak terasa cape dan lama karena banyakan, bahkan kalo lagi musim hujan jalan kaki itu lebih asyik, terutama pulang sekolah, emang aku suka sekali menikmati hujan. tak jarang pula aku nebeng pake sepeda bmx temenku. ya begitulah sekolah bagi kami anak-anak kampung memang sangat mahal, bukan hanya dari segi biaya tapi juga masalah tenaga..tapi rasanya perjuanganku tak sia-sia toh pada tahun pertamaku aku meraih juara pertama sekaligus juara umum SMP, senangnya bukan main, pengorbananku tak sia-sia..aku yang anak kampung jadi juara umum, dapat mengalahkan anak-anak lain yang notabene secara ekonomi cukup mapan dan anak-anak yang tidak memiliki keterbatasan seperti kami…Entahlah yang jelas Semangat dan mimpi besarkulah yang mengalahkan mereka..aku Memang sang pemimpi.

dan rasanya masih banyak mimpi-mimpiku yang lain yang saat ini sedang kucoba untuk wujudkan. semoga!

Post

EPISTEME

In Satra on 19 Mei 2008 oleh manikmaya

Untuk seorang kawan :

Masa mengubah diri..

semua citra kini berubah,

manusia larut dalam waktu.

dalam jejak-jejak langkah yang bisu.

tak ada lagi pelangi!

yang kulihat di ujung senja..

kala hujan reda… semua basah,

semakin luput dalam amarah.

Realita adalah bayangan,

seperti halnya mimpi-mimpi yang kelam.

kala pagi menyapaku dalam gerimis,

kau adalah tangis.

masa lalu..masa kini..

hanyalah sebuah cerita

tempat kita berpaling mengurai makna.

tentang harapan yang selalu ada.

saat kau dan aku memeluk tanya?

secangkir kopi susu..

sebatang rokok..

2 bungkus permen

seorang kawan,

menemani pagi dingin dalam natal

mungkin benar dunia adalah tragedy,

dan hidup adalah sebuah komedi..

tempat rasa dan pikir berbaur,

aroma kopi susu..

tragedi sebatang rokok..

komedi 2 bungkus permen..

dan sebuah kelahiran

manis, pahit dan asem..

semua rasa menyatu,

kau tak lagi kutuju…

hari kini semakin angkuh

saat kau semakin jauh..

bukan hanya dalam genggaman

tapi juga dalam angan..

Selamat Jalan Kawan!

Hidup adalah sebuah pilihan!