sesuai dengan apa yang saya inginkan akhirnya saya bisa re-post beberapa tulisan terdahulu, yang merupakan kepingan-kepingan tulisan saya yg berserakan namun masih bisa diselamatkan…, tulisan- tulisan itu tadinya akan saya buat sebuah cerpen ato novel…namun akhirnya tak kunjung juga berhasil…karena entahlah saya sendiri males untuk melanjutkannya dan kesulitan dalam menemukan alur yang saya ingin kan…akhirnya ya sudah..saya simpan. 3 tulisan itu adalah Eksistensi, dialektika -2 dan keping waktu…

keping waktu
Semakin jauh jarak kini kutempuh melewati ruang dan waktu yang tersisa, mencoba mengais setumpuk harapan yang masih ada walau mungkin kini sudah menjadi aus.
Hasratku berkata “Harus kulewati saat ini sepenuhnya, semoga esok akan tiba dengan terang!”.
Selalu ada yang menarik dalam kehidupan
Seolah menghentak kesadaran
Tak terasa memang guliran waktu menuntunku saat ini ketepi, setelah cukup kuarungi samudera kehidupan. Aku sendiri memang tak tahu, apakah ini memang saatnya ku berlabuh?. Aku masih belum yakin memang, saat ini jalan terbaik yang kupilih.
Entahlah benar atau tidak keputusanku untuk pergi, hingga aku berada disini saat ini di tengah laut lepas, diatas Kapal yang sebentar saja akan merapat di pelabuhan.
Detak jantung berpacu, seperti dendang
Desah nafas mengalun, seperti tembang.
Pada pandang pertama.
Mungkin inilah perjalanan pertamaku, dalam kehidupan yang sesungguhnya melewati hamparan daratan yang luas, menyeberang laut lepas, menggapai ujung menuju timur.
Menuruni kapal dengan keteguhan sekaligus kegalauan hati.
Jalan yang kupilih sepi, meski keramaian menyelimuti seluruh perjalanan, kutengok kiri dan kanan, aku merasa sendiri.
Semua orang bermain di dunianya sendiri. Dan bagiku saat ini duniaku adalah kebisuan.
Perempuan itu adalah aku, satu dari empat orang perempuan dalam perjalanan ini. Satu dari puluhan, ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan kaum perempuan di dunia ini. Hadir di sisi dunia, menyambut cerah dan gelapnya nuansa yang tercipta dari perputaran jagat raya.
Terbentang panjang menghampar
Seolah tiada ujung,
Tak ada awal
Aku memang tak pernah meminta untuk jadi perempuan, bahkan mungkin aku juga tak pernah minta untuk jadi seorang manusia. Sungguh kelahirankulah yang membuat aku seperti ini. Aku juga tak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia, kalau ada yang bersalah karena kulahir ke dunia, mereka adalah Ibu dan Ayahku dan juga Tuhan, kalau Ia memang benar-benar Ada!
Dan tak pernah kutemukan akhir
Bagaimana kubermula?
Hingga menjadi ada!
Seandainya ada waktu untuk memilih, aku tak mau jadi manusia, apalagi jadi seorang perempuan. Aku ingin menjadi Tuhan, tanpa jenis kelamin tentunya. Bukankah Tuhan selama ini berjenis kelamin laki-laki? -Kegilaanku semakin parah!>>>

dialektika-2
Aku bertemu dengannya tanpa sengaja ketika ia menyapaku di penghujung senja. Percakapan biasa bahkan tak menarik hati keluar dariku lepas seolah tanpa beban. Sampai ia bertanya padaku sesuatu yang eksistensial.
<Mahesa> Kamu Hidup?!
<Perawan_Cinta> mmm aku tak tahu
<Perawan_Cinta> Apakah Aku hidup???!
Sejak itu aku mulai tertarik padanya, dia memang beda sungguh berbeda, kehadirannya tak terduga, datang mengoyak seluruh nafas dan jiwa hingga lelah aku terbenam dipundaknya, diujung senja dengan tangis dan juga tawa. Aku rutin bertemu dengannya di tiap penghujung sore, hanya dia yang kunantikan walau susah bagiku untuk bisa menerka kehadirannya.
Datang dan pergi tiada pasti, kadang siang, sore terkadang juga malam. Terkadang ria, penuh tawa dan juga manja. Dan terkadang ia lemah dan keropos, tapi suatu saat ia datang dengan kuat dan kokoh mencengkramku, dan mengajakku menari. Menari, hingga benamkan aku pada mimpi
Entahlah menantinya selalu membuatku resah, hanya satu yang pasti padanya bahwa ia ada. Namanya mengingatkanku pada seseorang yang kukenal Sekitar empat tahun yang lalu, Mahesa. Tapi yang satu ini memang berbeda, membuatku hidup, yang dulu kini tinggal kenangan yang berbekas luka dan juga harap.
Aku memang tidak memahaminya, seperti tidak pahamnya aku terhadap diriku, yang aku pahami hanya ketidakkonsistenanya yang ia bilang ; Itulah Dialektika!. >>>
Cipaganti 2002

eksistensi
Aku bertemu dengannya kemarin disebuah ruang tanpa waktu. Dia menyapa lembut menarikku pada satu batas maya dan realita. Dia begitu sempurna, begitu cerdas membuatku takjub. Pertemuan yang menarik tak pernah terbayang sebelumnya
Bila kau rindu, pejamkan mata
Sebut namaku tiga kali
Aku hadir disisimu
Pencarianku belum selesai tapi satu sisi telah kutemukan, kehadirannya. membuatku hidup.
Dia hadir bukan sekedar mimpi, tapi melebihi imaji yang pernah terlintas.
Ruang yang terbatas, waktu yang terhenti sementara, mempertemukan aku dengannya untuk yang pertama dalam kehidupan saat ini
Menemukan dan ditemukan itulah kehidupan bergerak dari satu sisi ke sisi yang lainnya terkadang linear, dan terkadang siklis, terkadang juga zig-zag. Pada satu sisi itulah dialektika menembus ruang dan waktu yang bisu. Hitam dan putih adalah warna seperti kemilau jingga di merahnya senja .
Ketegaran sekaligus kelembutan, kecantikan dan kepintaran bersatu dalam satu sosok perempuan yang kehadirannya kutunggu sejak kelahiran.
Nyaris aku gila dengan kesadaran sepenuhnya bahwa dia Eksist dengan kebebasan dan keterikatannya pada dimensi .
mungkin saat ini aku berada di tepi dan telah kutemukan pantai harapan itu, tempatku menambatkan hidup. Pada suatu waktu perahu harus berlabuh.
Dan itulah pilihannya, kesadaranku menuntun pada keputusan untuk membebaskan diri dari suatu keterikatan pada ketakutan, kebencian,dan kesedihan. Menjadi Cinta, kedamaian dan kegembiraan
Seperti perjalanan Ibrahim dan juga Kierkard. Mencari tetapi ditemukan, menemukan tetapi dicari.Dalam rentang ruang, waktu dan juga dimensi. Pencarian sampai pada satu titik dan batas, dan bilakah transisi berakhir?, itulah saatnya engkau memilih dengan penuh kesadaran.
Dan perempuah itulah yang menuntunku ketepi lewat perjumpaan penuh makna di penghujung senja. Dialah Diva tempat Eksist dan Essens bertemu, berdialog dengan terbuka dan bebas, atas nama Cinta dan juga Keadilan.
Pembebasan adalah hakikat pertemuanku dengannya menjadi sama-sama setara dan juga berbeda. N Realy. Life is Beautiful! >>>
Sore itu aku kembali bertemu dengannya. Ketika ia menelpon sore hari ingin bicara denganku. Aku menghampirinya lembut, walau susah akhirnya memang ketemu :
<Mahesa_11> met sore
<Mahesa_11> kangen nih
<Perawan_Cinta> iya : )
* Perawan_Cinta bentar lagi balik Sa
<Mahesa_11> pulang ya
<Mahesa_11> kirain masih lama
<Perawan_Cinta> heeh
<Perawan_Cinta> tapi…buat kamuuuuuu ; p
<Perawan_Cinta> nggak pp deh
waktu itu relatif sepert relatifnya keinginan manusia terhadapnya, terkadang panjang terkadang pendek. Tapi hal itu juga relatif, toh semua kehidupan manusia relatif, yang pasti memang satu, Maut adalah Kepastian!!!, soal waktu, tunggu saja hingga saatnya tiba, pasti tiba.
Ruang, waktu, dimensi terhenti ketika kami bertemu seolah enggan mereka meninggalkan moment yang saat ini terjadi, seolah ingin menyimak dan menyaksikan pertemuan ini. Aku terpaku pada layar menyaksikan untaian kata yang kini berhamburan diantara kami hingga aku tersentak oleh pertanyaannya yang menusuk.
<Perawan_Cinta> kapan pertama kali jatuh cinta Sa?
<Mahesa_11> kelas satu smu
waktu kembali kebelakang, persis 4 tahun yang lalu. Pertemuan pertama yang mengguncang, saat debar pertama mendesirkan sumsum dan tulang. Menggelorakan darah dan memompa jantung kehidupan. Saat terkapar oleh senyuman..>
<Perawan_Cinta> : )
<Perawan_Cinta> umm sama kalo gitu
<Mahesa_11> yg bener2 jatuh cinta maksudku
<Perawan_Cinta> bertahan brapa lama cintanya
<Mahesa_11> nggak tahu sekarang udah nyampur rasanya
<Perawan_Cinta> nyampur gimana maksudnya?
<Mahesa_11> antara cinta dan benci
<Perawan_Cinta> knapa?
<Mahesa_11> aku tidak tahu apakah aku masih mencintainya.
Ruang seolah berputar, mencoba menghadirkan aku pada satu sisi, diam bisu tak bicara. Masih tergambar jelas sosok utuhnya, terutama binar matanya yang membawa cahaya kehidupan. Ruang dan waktu adalah sekeping mata uang pada sisi yang berlainan terkadang beroposisi, dan lebih banyak tunggal. Satu sisi melengkapi sisi yang lainnya. Terkadang berpencar dan mandiri. Menjadi keping-keping tunggal yang berbeda. Keping waktu dan keping ruang. Seperti Cinta dan Benci.
Apakah ada yang benar-benar tunggal?
Lebih sering setiap kehidupan adalah oposisi, dan mereka saling mengalahkan antara satu yang lainya menegaskan eksisitensinya dengan menegasikan lawannya
Cipaganti 2002

elegi..
untuk Neng Isti ;
Pertemuan itu masih menyisakan sesak, sesak yang dalam..
Banyak perubahan terjadi
…Masa telah mengantarkan kita ke gerbang itu, Kedewasaan mungkin…
Menertawakan kisah dulu yang pernah mewarnai…
Ada suka, gembira maupun duka dan sedih ..bercampur baur…
Tergores,…kenangan yang tidak mampu terlupa
Setidaknya, kau adalah yang pernah hadir dalam khayalku
Terlintas dalam hari-hari bisu..
dan harus kuakui,…aku terlena dalam perjalanan,
hingga sempat melupakanmu
Mengenalmu adalah jalan terbaik yang pernah aku tempuh
dan aku tak mau menghapus itu dalam benakku
Biarlah itu menjadi sebuah kisah tempatku kembali mengaca
Pada waktu dan ruang tempatku berpulang…
Rasa itu telah berubah..dan aku tak tahu apakah itu?,
..toh kita telah sama-sama mengalami perubahan..
Setidaknya pengalaman kita yang berbeda,
namun sama dalam ke-Universalan Cinta-Nya…
dan Tuhan pertemukan kita diujung jalan
Saat lurus dan menikung akan kutempuh,
Maafkan bila aku salah,
Bahwa kau merupakan hal yang khusus dalam hatiku, Ya!
Cinta selalu datang dan pergi
dan aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan kita dalam hari-hari kedepan
Mungkin benar katamu, hanya waktu yang bisa menjawab segalanya tentang kita,
tentang rasa ini…
Dan itu yang akan membuatku bertahan
Masih ada harapan buat hari esok
Walaupun mungkin hanya sedikit
Hidup adalah kemungkinan kan?.

pagi di bulan juli..
..gerimis menyapa pagi,
dalam dingin yang membeku
langkah kaki tertatih, mencoba tuk meraih
sejumput asa dalam masa,
sebuah pagi di bulan juli

Dunia dalam sepotong kabel…
Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis tentang hal ini, tentang dunia yang semakin menyempit dan mengasingkan kita dengan realiatas, dunia yang terhubung dalam potongan-potongan kabel. ia ada, dalam maya, dalam pikiran yang tersambung melalui kabel-kabel elektris, dalam jagad yang penuh dengan bentuk-bentuk dan dinamika yang asimetris, menjelma bagai pusaran warna eksotis.
dunia yang menghubungkan antara imaji dan juga hakiki, dunia yang menjebak kita dalam bayang dan mimpi-mimpi. ah.. terkadang saya larut didalamnya, mengheningkan cipta dan lupa diri. haha..begitu mempesona memang, kita hadir dalam dunia yang penuh kebebasan ekpresi, menjadi seorang malaikat atau iblis, atau manusia sekalipun kita bebas berkreasi..toh tak akan ada yang melarang apalagi sebatas undang-undang. manusia makhluk cerdas, bahkan lewat sepotong kabel pun kita bisa eksis, menerobos ruang dan waktu yang kini mempunya batas tipis..
nyatanya dunia itu kadang menjadikan kita terlena dan lalu buta warna, hingga kita alpa akan dunia nyata. hehe..jd inget lagu Bang Haji..terlena judulnya ( rika…rika…hahhaha ), but is true..pesona maya itu luar biasa menjadikan kita nyaris mahkluk yang semakin nampak fana, terjebak dan rusak lalu teriak..dan jadi orang yang semakin kehilangan otak.
hahaha so sarkastik memang, tapi ini adalah realita yang saya perhatikan di sekeliling saya, dunia yang kecanduan akses serba instan, sehingga mengabaikan nilai-nilai perjuangan. tengok dan perhatikan orang yang kecanduan internet..(haha..termasuk saya ndiri), terutama yang kecanduan yang namanya chatting atau sms-an..senyam-senyum depan layar komputer atau hp, senyum kita terhadap mesin yang didalamnya beratus bahkan beribu kabel terkoneksi.
Dunia dalam sepotong kabel, begitu pentingnya kabel saat ini, sehingga kita nyaris mengalami semacam adiksi, adiksi terhadap benda mati. begitu pentingnya kabel bagi kehidupan kita saat ini hingga segala aspek hidup tidak pernah lepas darinya..mulai dr bangun tidur, mandi, beol (hup sory..hehe.) kerja, makan seks, hingga tidur lagi, kita tergantung terhadap kabel. kabel menjadi semacam bentuk lain dr ketidakmampuan manusia membebaskan dirinya sendiri. alih-alih membebaskan kabel justru menjebak kita dalam alineasi yang semakin lama dan semakin jauh menafikan nilai dan eksisitensi humanis kita. alienasi terhadap lingkungan fisik dan material yang menyebabkan kita larut dalam sebuah bentuk hidup baru yang hyperrealitas.
hyperrealitas kehidupan manusia pada akhirnya menjadi sebuah condite sine qu anon..bagi hancurnya peradaban manusia, dimana nilai-nilai moralitas kemanusiaan kini menjadi aus dan benar-salah menjadi sebuah hal yang tidak relevan. sejatinya kita mesti berpikir ulang untuk mendefinisi kehidupan kemanusian kedepan..so apakah masa depan kita masih ditentukan oleh kabel?hehe..Wallahualam

Ramadhan…
Finnaly, nyampe juga di ramadhan tahun ini,…ya selalu ada harapan baru sebenarnya bila bertemu dengan bulan ramadhan ini. harapan untuk memperbaiki diri dan mulai berubah. tapi memang selalu saja ada hambatan untuk mulai dan mau berubah itu. setidaknya itu yang saya alami ..baru 2 hari puasa saya terkena radang tenggorokan..dan kelelehan banget..alhasil saya harus istirahat selama 4 hari dan batal puasa selama 3 hari itu. ya start yang buruk bagi saya di ramadhan kali ini..tapi sebenarnya semangatnya tetap tidak berubah..memperbaiki diri, walau terkadang terdengar sedikit naif, memperbaiki diri koq di Ramadhan? tapi whateverlah..bagi saya perubahan dan memperbaiki diri itu tidak mengenal waktu..saat dan ingin berubah? lakukan saja. masalah hari atau bulan adalah soal momentum saja yang bisa kita gunakan….bukan soal penting ato enggaknya, sejatinya yang paling penting adalah perubahan dan perbaikan diri sendiri itu..
so..ada banyak harapan yang ada dibenak saya sebenarnya di ramadhan kali ini,..semoga saja harapan itu tidak sekedar kata-kata melainkan dalam bentuk yang lebih nyata, yaitu karya dan perbuatan, dan semoga lailatul qadar kali ini saya mendapatkan makna yang lebih..amien
seperti kali ini saja sebenarnya saya sudah lama ngak ngeblog,.entahlah saya merasa kreativitas saya menjadi mandul dan kering, hingga saya tak mampu lagi untuk menuang atau posting tulisan..saya punya banyak tulisan sebenarnya,..dulu bahkan saya punya projek sejenis novel yg ingin saya buat, namun nampaknya tak berlanjut dan hanya menjadi sebuah ceceran tulisan yang terpisah..saya ingin repos disini dan berbagi sebenarnya untuk melanjutkan novel itu..ya itung2 memebangkitkan kembali semangat menulis saya
anyway saya mau berbagi dengan teman teman mengenai ceceran tulisan itu..semoga ini menjadi sebuah langkah kecil saya memulai sesuatu yang saja mimpikan sejak kecil, menulis dan menjadi penulis..
so wait 4 new post about my novel n..
Marhaban ya Ramadhan..

Cinta dan Keterasingan Manusia!
Cinta dan Keterasingan Manusia! [1]
Oleh : Zaenal Arifin
…Bukan hanya perasaan, namun juga pakai otak. Saya nggak percaya kalau cinta itu buta. Cinta butuh aspek lain, saling pengertian, kompromi dan pengorbanan yang dilakukan timbal balik. Saya belajar bahwa cinta itu berguna untuk meningkatkan diri masing-masing.
Risna, 22, karyawan swasta
…Sulit untuk diungkapkan. Cinta itu butuh pengorbanan, kesabaran dan keteguhan hati sehingga susah buat mempertahankan cinta. Tapi kalau tidak dipertahankan, lama-lama cinta juga akan hilang. Jadi, cinta itu bullshit.
Meiliana, 28, wiraswasta [2]
Cinta? Tai Kucing!…
Itulah judul sebuah buku kumpulan cerpen yang beberapa hari lalu saya baca [3], ungkapan itu mungkin terasa sarkastis tapi tetap realis. Sarkastis dan realis, karena menggambarkan realitas keseharian kita yang sangat sulit dalam memaknai sebuah kata “abstrak”. Ya, Cinta merupakan suatu konsep yang sulit untuk kita definisikan secara gamblang, panjang lebar, jelas dan ilmiah. Membicarakan persoalan Cinta adalah sesuatu yang tidak pernah habis, meminjam istilah Erich Fromm ; Cinta merupakan Problem Eksistensi Manusia[4]. Sebagai bagian dari eksistensi ; Cinta akan selalu ada dimana-mana, disetiap jaman dalam ruang dan waktu.
Persoalan cinta adalah persoalan kehidupan manusia seluruhnya yang tidak pernah mengenal batas usia, gender, ras, ideologi, budaya..dsb. Cinta bukanlah monopoli anak muda (remaja)…meskipun pada akhirnya, remaja sebagai icon budaya pop menempati posisi dominan didalam perbincangan ini.
Cinta : Solusi Problem Keterasingan Manusia
Sejarah Cinta sangatlah panjang, setua peradaban manusia setua itu pula bila kita berbicara tentang Cinta, singkatnya sejarah manusia adalah sejarah Cinta itu sendiri. Cinta merupakan sebentuk pengalaman yang harus dialami dan dirasakan bila kita ingin memahaminya. Cinta (amor, eros) menurut Fromm dan juga Marx bermula dari keterasingan manusia atas realita yang ada disekelilingnya. Situasi keterasingan ini (dalam hal tertentu kesendirian) memicu manusia untuk menemukan sesuatu yang berada diluar dirinya sendiri (ego) hingga kemudian manusia mampu menemukan konsep Cinta.
Situasi keterasingan kemudian mengalami ‘metamorfosis’ pada manusia modern, disebabkan oleh perkembangan sosial budaya mutakhir, telah menuntun manusia pada aspek kehidupan yang semakin bersifat formal dan materil. Perilaku manusia kemudian dibatasi oleh sesuatu yang berbentuk dan berwujud, dan pada posisi akhir, menempatkan manusia tak layaknya sebuah mesin yang bersifat mekanis, kaku, formal dan linier. Situasi manusia yang keluar dari sentuhan dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Ia mengalami dan memahami dirinya sendiri dan orang lain sebagai benda; selain itu secara serentak juga mengalami ketiadaan hubungan dengan dirinya sendiri dan dunia luar secara produktif. Pada posisi ini cinta mengalami pergeseran makna yang signifikan Cinta kemudian dimaknai dalam bentuk dan wujud meninggalkan ide-ide dan konsep. Cinta direduksi dengan menggunakan logika angka dan industri. Cinta yang berwujud Trinitas tungggal sebagai libido seks, kekuasaan dan kekayaan.
Peradaban modern pada akhinya melahirkan pribadi-pribadi yang Narsis[5]. Pribadi individualis yang diperbudak oleh ambisi-ambisi dan kepentingannya pribadi yang telah menjadi berhala Cinta baru bagi manusia modern. Pribadi narsis yaitu mencintai diri sendiri secara berlebihan, menjadi ciri utama manusia modern yang semakin mengasingkan diri dengan dirinya sendiri dan dunia luar secara keseluruhan. alih-alih membebaskan, budaya modern, pada akhirnya mengasingkan manusia dan bahkan membelenggunya secara sistematis. Pribadi yang terasing ini pada akhinya mengalami kehilangan pemahaman tentang jatidirinya sendiri .Fase inilah yang kemudian dinamakan Interegnum[6] .
Cinta yang diciptakan dan direduksi oleh kebudayaan modern menjadikannya kering kerontang dan hampir tanpa makna. Cinta yang berorientasi pasar ini tak lebih dari sekedar pertukaran maupun transaksi atas kepemilikan tubuh, dan tidak dapat memecahkan situasi keterasingan manusia modern yang akut. Lantas apa solusi untuk mengatasi problem manusia modern itu?. Erich Fromm menawarkan Cinta. Cinta yang Cinta sebuah cinta produktif yang tidak reduksionis namun holistis. Konsep dan aksi secara sinergis dalam praktek mencintai orang lain dan mencintai diri sendiri [7]
Mengapa harus Cinta?
Mengapa cinta menjadi jawaban atas problem eksistensi manusia? mungkin itulah pertanyaan selanjutnya yang muncul dibenak kita. bisakah cinta ini menyelesaikan problem manusia modern? dan cinta seperti apakah itu?
Situasi keterasingan manusia dari dirinya sendiri dan orang lain serta lingkungan sosialnya menuntut manusia untuk bisa keluar dari situasi krisis ini dengan menemukan makna baru atas kehidupannya. Dan menemukan makna itu dapat diperoleh dengan jalan praktek mencinta, karena tuntutan sebenarnya manusia untuk lepas dari situasi keterasingan ini adalah proses interaksi antar sesama, hidup bersama secara damai, saling mencintai ; mencintai orang lain dan juga mencintai diri sendiri sebagai sebuah fitrah. Kebutuhan dasar akan kasih sayang dapat diperoleh ketika melakukan praktek secara langsung dan keluar dari kerangkeng ego yang dimiliki. Dengan demikian praktek mencintai merupakan praktek kebebasan dalam menentukan sikap dan pilihan untuk mencintai orang lain dan mencintai diri sendiri
Cinta dalam hal ini berarti menerima seseorang sebagaimana adanya, kelebihan dan kekurangannya, bakat dan perasaannya, watak dan fisiknya, kepandaian dan kebodohannya, keistimewaan dan ketololannya, ini bukan berarti mereka yang saling mencintai tidak berusaha memperbaiki kekurangan sesamanya, tetapi untuk memperbaikinya, mereka lebih dulu harus bisa menerima keadaaan yang sebenarnya, seperti halnya seorang Dokter menyembuhkan seseorang hanya setelah dia tahu keadaan yang sakit sebenarnya dari pasien [8]
Cinta yang produktif menurut Erich Fromm mengandalkan tanggungjawab, pemeliharaan, penghormatan, dan pengetahuan serta kehendak bagi orang lain untuk tumbuh dan berkembang, dengan demikian cinta yang produktif selalu menetapkan kepentingan yang sejajar antara manusia, antara yang mencintai dan yang dicintai. cinta produktif adalah cinta yang komunikatif, dialogis,dan partisipatif.(wallahu alam)
[1] Disampaikan dalam Diskusi hari Valentine yang diselenggarakan oleh PD PII Kab. Bandung, 15 Februari 2004
[2] www.citacinta.com
[3] Maroeli Simbolon, Cinta? TaiKucing!..,sebuah kumpulan cerpen.
[4] Erich Fromm dalam The Art of Loving
[5] Teori tentang Narsisme lahir dari Freud mengacu pada tahap-tahap perkembangan manusia berdasarkan kateksis-kateksis (dorongan-dorongan) tahap pragenital. Individu mendapatkan kepuasan dari stimulasi dan manipulasi tubuhnya sendiri (lebih jelas bisa dilihat dalam buku Teori-teori Psikodinamik(klinis),)
[6] Interegnum : Nilai lama sudah aus (basi) sedangkan nilai baru belum ditemukan (Parakitri T. Simbolon, Kompas 2000)
[7] Erich Fromm dalam Cinta, Seksualitas, Matriarki,Gender (lihat juga The Art of Loving)
[8] Dikutif dari kutifan Ignas Kleden dalam Buku CInta dan Keterasingan

Let it flow…
Sakitnya melahirkan tulisan,…itulah yang saya rasakan akhir-akhir ini. sudah sebulan lebih saya tidak posting atapun menulis sebuah tulisan disini dan rasanya saya merasakan kepala saya pening ( i got headache..hehehe) entahlah saya merasakan kemandegan akhir-akhir ini. seolah proses kreatif menulis saya seketika hilang ketika dihadapkan pada layar komputer…banyak draft tulisan sebenarnya yang telah saya tulis dan susun tetapi ketika saya baca ulang, kemudian saya merasa kurang cocok dengan tulisan saya, akhirnya saya urung untuk mempostingnya disini…
Kemarin saya iseng mengunjungi milist yang udah lama tidak saya kunjungi, meskipun saya salah seorang yang membuat milist tersebut..tapi saya sudah tidak terdaftar jadi anggotanya lagi (heheu password emailnya saya lupa lagi sih). ..saya buka tulisan-tulisan awal di milist tersebut. dan ternyata saya banyak menjumpai tulisan saya sendiri..saya baca-baca sebentar tulisan-tulisan saya sendiri itu,..saya serasa terlempar ke masa awal 2000-an. awal-awal masa kuliah saya yang penuh dengan idealisme dan ambisi, kejernihan ide, maupun kegenitan intelektual saya,..saya sedikit bangga, sekaligus tertawa sendiri bila kembali mengingat masa-masa itu..masa saya bangga menjadi seorang aktivis, masa idealisme penuh berkobar…hal ini saya jumpai dalam sejumlah tulisan-tulisan yang tidak terdokumentasi oleh saya namun ada di milist ini. tulisan-tulisan dan ide yang jernih saya pikir, walaupun memang maseh nampak tulisan-tulisan saya semasa semester 1..
saya kemudian teringat dulu saya memang selalu kreatif menghasilkan sebuah ide ataupun pemikiran lalu menuangkannya ke dalam tulisan untuk dijadikan sebagai bahan diskusi, hal yang tidak saya lakukan akhir-akhir ini tentunya. senang sekali sebenarnya menjumpai dokumentasi tulisan itu, setidaknya saya bisa meraba sejauh mana pengembaraan intelektual saya sampai saat ini. saya menemukan kelebihan dan kekurangan dari tulisan-tulisan saya yang terdahulu, pun tulisan-tulisan saya hari ini. kekuatan utama tulisan saya di masa wal 2000-an adalah semangat dan idealisme yang masih jernih, dan optimisme awal mahasiswa ilmu politik, kekurangannya terletak pada bobot maupun kedalaman isi..sehingga saya maseh bisa menangkap tulisan tulisan itu maseh berada dalam latar permukaan saja dan terkadang masih utopis. sudahkan saya berubah sejauh ini?..saya menemukannya lewat sejumlah tulisan.
Perubahan adalah sebuah dinamika yang mesti terjadi, dan itulah yang saya alami, menelusuri jejak-jejak langkah kebelakang yang telah saya lakukan saya semakin sadar saya banyak berubah..bukan hanya perubahan soal fisik saja tentunya tetapi juga soal pemikiran dan cara pandang dalam melihat sesuatu, meskipun saya pada prinsipnya sadar : saya adalah orang yang konsisten dengan ketidak konsistenan…(heheu..berat bahasanya bro). entahlah secara disadari atau tidak saya memang telah berubah, menuju kedewasaan? mungkin saja. bagi saya masa-masa idealisme itu menjadi cermin maupun pijakan bagi saya untuk kembali melangkah menemukan hakikat sejatinya perjalanan hidup saya..dan saya akan membiarkan tetap mengalir sendiri akhirnya, mengalir seperti air yang menuju muaranya …
let it flow…
saya percaya hidup adalah sebuah pilihan, dan pilihan-pilihan itulah yang menentukan siapa dan dimana posisi kita akhirnya?..dan saya akan biarkan pilihan itu mengalir begitu saja.. kemudian saya memilihnya, walaupun terkadang saya harus akui, jalan yang saya ambil tidak sepenuhnya membuat saya puas. saya kecewa? ya..sebagai manusia yang tidak luput dari khilap saya pernah kecewa, tapi itulah konsekwensi dari pilihan hidup saya. memilih dan menjadi..
Untuk saya saat ini, saya masih terbuka dengan kemungkinan, membiarkan segala pilihan untuk tetap mengalir apa adanya. saya akan memilih dan itu pasti… perubahan hanyalah soal waktu dan saya yakin itu..









