Indonesia…’Bersama Kita Binasa?!’


Saya semalem dapat kiriman video dari salah seorang temen saya, Aktifis GMNI garut. Vidoenya lumayan bagus, tadinya saya mau pasang disini videonya tapi berhubung udah dioprek dari tadi ngak bisa juga tampil..ya udah deh gpp. (maklum deh aku pemula neh..jd rada repot ngeset videonya tapi kalo kawan2 mau liat silahkan aja buka link ini..http://www.youtube.com/watch?v=skEdc2zpfP0)..

Revolusi Indonesia Belum selesai…Judul video itu, menjadi sebuah gambaran realitas yang terjadi saat ini di Indonesia. pergantian rezim demi rezim kekuasaan memang belum mengantarkan pada tujuan dan hakikat reformasi yang sebenarnya yaitu kesejahteraan rakyat. Rezim terus berganti sementara rakyat terus menanti dan menanti, nyatanya perubahan yang diharapkan tak kunjung berarti..perubahan hanya sebatas janji-janji kampanye yang marak di televisi, buktinya? TAI!

maraknya demontrasi hari-hari belakangan ini sebenarnya adalah puncak kulminasi dari rasa prustasi sebagian besar masyarakat yang semakin jengah dengan kekuasan saat ini yang semakin hari semakin nampak pongah..entahlah..apa yang dipikirkan oleh pemerintah saat ini?, saya tau memang, mengubah keadaan itu tidak bisa semudah membalik telapak tangan.. tidak semudah membuat slogan-slogan yang dikumandangkan lewat nyanyian, “Bersama Kita bISa” karena pada kenyataannya “Bersama Kita BInasa”..tapi memang janji2 kemakmuran dan kesejahteraan itu terlanjur dikumandangkan bahkan dikemas dalam bentuk nyanyian dan iklan-iklan..

itulah sebenarnya yang jadi soal, makanya tak salah kemudian sebagian besar rakyat menagih janji itu. Janji adalah hutang yang harus dibayar tunai,..anehnya sang elit penguasa kemudian selalu berkelit dan berkelit berlindung dibalik Citra dan tampilan tapi tidak memiliki ketegasan. padahal saat ini yang dibutuhkan oleh kita sebagai rakyat hanya satu ketegasan akan sikap..ketegasan untuk memihak kepada rakyat!,

Yang  dibutuhkan oleh rakyat, bukanlah nyanyian suara yang tidak merdu, bukan pula iklan-iklan yang berseliweran bak jagoan di jalanan,..yang diharapkan oleh masyarakat adalah keadilan ditegakkan dan sikap tegas untuk tidak dinaikannya harga-harga, pemenuhan terhadap janji adalah mutlak dilakukan tanpa itu rasanya rakyat akan semakin marah dan prustasi..dan saya tau Revolusi tak lama lagi..

dalam lembar ini ijinkan saja saya sedikit menggugat

bahkan Kami sudah malas melihat senyummu wahai Jendral, senyum seulas yang tak jujur dan hanya berharap balas.ingat kah kau ketika dulu berjanji,.. kami sebagai bagian rakyat negeri ini telah bersaksi, bahkan Tuhan sekalipun telah bersaksi..tak akan lagi kau Naikan harga-harga..tak akan lagi kau bikin rakyat sengsara, nyatanya kau buat kami menjadi sengsara dan gila..bukan kah kau telah nyayikan sebuah nyanyian
bersama kita bisa, nyatanya telah kau ubah… bersama kita binasa!

Salam!

One thought on “Indonesia…’Bersama Kita Binasa?!’

  1. Jejak Langkah Sebuah Bangsa, Sebuah Nation

    Tak mungkin orang dapat mencintai negeri dan bangsanya,
    kalau orang tak mengenal kertas-kertas tentangnya.
    Kalau dia tak mengenal sejarahnya.
    Apalagi kalau tak pernah berbuat sesuatu kebajikan untuknya,”

    -Minke, dalam Novel Jejak Langkah karya Pramoedya Ananta Toer-
    Dikutip Kompas di tulisan pembuka liputan khusus Anjer-Panarukan

    Saya memberikan apresiasi yang besar kepada Koran Kompas dan juga kalangan pers pada umumnya yang secara intens dan kental mendorong munculnya kesadaran historis sekaligus harapan dan optimisme akan masa depan Indonesia. Mempertautkan makna masa lalu, masa kini dan masa depan. Ini nampak paling tidak sejak bulan Mei secara rutin Kompas memuat tulisan wartawan-wartawan seniornya dan mungkin beberapa orang non wartawan kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional . Patut diapresiasi pula liputan besar Kompas “Ekspedisi 200 Tahun Jalan Pos Anjer-Panaroekan”.

    Daniel Dhakidae yang juga menjadi salah satu penulis seri 100 Tahun Kebangkitan Nasional Kompas ini pernah mengatakan bahwa “sejarah bukan masa lalu akan tetapi juga masa depan dengan menggenggam kuat kekinian sambil memperoyeksikan dirinya ke masa lalu. Warisan tentu saja menjadi penting terutama warisan yang menentukan relevansi kekinian. Apa yang dibuat disini adalah melepaskan penjajahan masa kini terhdap masa lalu dan memeriksa kembali masa lalu dan dengan demikian membuka suatu kemungkinan menghadirkan masa lalu dan masa depan dalam kekinian”. (Cendekiawan dan Kekuasaan : Dalam Negara Orde Baru; Gramedia Pustaka Utama, 2003, hal xxxii)

    Dalam bukunya itu contoh gamblang diperlihatkan oleh Dhakidae, dimana sebelum sampai pada bahasan masa Orde Baru ia melakukan pemeriksaaan wacana politik etis sebagai resultante pertarungan modal, kekuasaan negara kolonial, dan pertarungan kebudayaan antara Inlander vs Nederlander, antara boemipoetra dan orang Olanda. Baginya zaman kolonial menjadi penting bukan semata sebagai latarbelakang, akan tetapi wacana itu begitu menentukan yang dalam arti tertentu bukan saja menjadi pertarungan masa lalu akan tetapi masa kini.

    Kompas saya pikir telah mengerjakan ini dengan sangat baik dan saya mendapatkan pencerahan dari sana (o iya Bung Daniel adalah juga kepala litbang Kompas)

    Untuk meningkatkan akses publik ke seluruh tulisan-tulisan berharga ini, saya menghimpun link seri artikel Kompas bertajuk 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini. Sebelumnya saya juga telah menghimpun link seri liputan Kompas Ekspedisi 200 Tahun Jalan Raya Pos Anjer-Panaroekan : Jalan (untuk) Perubahan.

    Demikian juga saya telah menghimpun link-link ke artikel-artikel Edisi Khusus Kemerdekaan Majalah Tempo tentang Tan Malaka “BAPAK REPUBLIK YANG DILUPAKAN. Sebagai catatan tulisan tentang Tan Malaka juga ada di dalam seri tulisan Kompas seputar 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Apresiasi tinggi pula untuk Majalah Tempo.

    Akhir kata secara khusus saya menaruh hormat kepada Pramoedya Ananta Toer yang telah menjadi ‘guru sejarah’ saya melalui karya-karya sastra dan buku-buku sejarah yang ditulisnya. Saya pikir bukan sebuah kebetulan Kompas mengutip roman Jejak Langkah sebagai pengantar liputan khususnya, juga dari buku Pram Jalan Raya Pos, Jalan Daendels- “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain”.

    Tidak lain juga sebuah penghormatan kalau tidak pengakuan terhadap sumbangan Pram untuk negeri ini. Diakui atau tidak.

    Salam Pembebasan
    Andreas Iswinarto

    Untuk seri tulisan 100 Tahun Kebangkitan Nasional
    Kipling, Ratu Wilhelmina, dan Budi Utomo; Renaisans Asia Lahirkan Patriotisme Bangsa-bangsa; Semangat Kebangsaan yang Harus Terus Dipelihara; Menemukan Kembali Boedi Oetomo; Ideologi Harga Mati, Bukan Harta Mati; Pohon Rimbun di Tanah yang Makin Gembur; Mencari Jejak Pemikiran Hatta; Membangun Bangsa yang Humanis; Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional; Kaum Cerdik Pandai, antara Ilmu dan “Ngelmu”; Masa Depan “Manusia Indonesia”-nya Mochtar Lubis, Menolak Kutukan Bangsa Kuli; Pendidikan dan Pemerdekaan; Kembali ke PR Gelombang Ketiga; Kebudayaan dan Kebangsaan; Musik Pun Menggugah Kebangsaan…

    Silah link ke
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/jejak-langkah-sebuah-bangsa-sebuah.html

    Ekspedisi Kompas 200 Tahun Anjer-Panaroekan
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/belajar-dari-sejarah-sebuah-jalan-200.html

    Edisi Kemerdekaan Tempo dan 12 buku online : Tan Malaka
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/tan-malaka-bapak-republik-revolusi.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s