Surat Cinta…


Dalam percakapan bisu yang mewarnai pagi, terantuk khayal, melayang pada satu sosok yang hadir tiba-tiba, nyata.. namun takpernah kupandaingi jasadnya. dan kilatan cahaya yang menyilaukan menembus mataku, gagap. bingung antara dua pilihan yang sama sama sulit untuk kupilih antara keutuhan dan pembebasan. berat untuk kakiku melangkah saat tangan-tangan ini mulai lemah dan tak kuasa lagi menanggung beban yang kian menumpuk.

bising kota semakin mengarahkan pada satu jalur yang senantiasa selalu ramai, terkadang berpikir mengahiri semua dengan jalan pintas, namun sesaat kembali sadar bahwa hidup kan terus berjalan dan hanya orang orang tegar yang bisa selalu hadir mewarnainya

seperti pula engkau yang selalu terlintas dalam benak, menjelma dalam hari hari yang berwarna terkadang nampak suram dalam pandanganku, ketika dari kujauhan kutatap seorang anak pengamen menyanyikan tembang, mengharap imbalan demi sesuap nasi. Disana mengais hidup, menjadikan berbagai pilihan yang beraneka ketika hidup merupakan sebuah jalan perjuangan dan lewat cinta kita mengenal hakikatnya .

Dimanakah engkau pagi ini?, saat secangkir kopi panas masuk ditenggorokanku dan sebatang rokok kuhisap dalam-dalam, menatap dikejauhan, mencari dalam gemerlap siang. Entahlah harus kubilang apa? dalam hari-hariku yang semakin dekat ini keberadaan jauhmu kurasakan sangat dekat, sedekat tarikan napas dan detak jantungku yang berpacu saat peluru-peluru maut ditembakan ke Bagdad, dan tangis anak-anak yang membahana bumi, ketika mesin-mesin perang telah memporak-porandakan kemanusiaaan, harus kubilang apalagi padamu, aku tak mampu lagi berkata : ketika darah- darah berserakan ditanah dan aku hanya bisa terpaku, menatap nanar, menantimu dengan penuh….

Ketika kertas-kertas berserakan dan pena-pena yang bocor, tak menyisakan sedikitpun goresan pada dinding yang menguning, bahkan kini terhapus oleh peluh-peluh dan luka yang mendamba hidup, kunanti engkau disini, saat kehangatan bibir bisa menghilangkan dahagaku pada manisnya air dipadang gurun yang gersang, marilah kupeluk tubuhmu, biarkan aku menyesap ceruk nikmat dalam hari-hari yang kini semakin menampakkan kebengisan pada setiap tubuh ringkih tanpa baju,.

Aku merindumu dalam gelap maupun terang, dalam setiap masa yang berbeda. selalu ada kehidupan yang kembali mengundangku, menjemputmu di stasiun sore saat kereta berangkat menuju candradimuka, dan bening matamu yang membuatku tenggelam akan indahnya sebuah kedamaian yang menjadi dambaan dunia, ketika makhluk-makhluk asing meneriakkan kata-kata demokrasi dan mengangkat pedang. Ditebasnya leher-leher tak berdosa demi sebuah harga diri dan setetes minyak.

Harus kukatakan kepadamu, kekasihku

Sebetulnya aku malu memanggilmu kekasih, seolah telah terjadi sesuatu diantara kita walau diakui itu hanya sedikit, dan ini hanya kegeeranku memaknai senyum hangat yang selalu menggelora ketika aku menatapmu dalam-dalam dan kau menunduk…sungguh tak bisa kuartikan ini, apakah cinta?, terkadang cepat mengambil kesimpulan. Tapi tak apalah aku tak mau berdebat denganmu tentang cinta, karena itu bukan pilihanku denganmu untuk mendebatkannya, sebab jalan untuk berpikir kini telah ditutup, kita harus merasakannya guna mengetahui hadirnya,

Harus kubilang padamu mengenai ini, bahwa di dunia yang semakin bebal, ketika kata kata hilang menguap, ditelan mesin mesin yang meneriakkan penghapusan ras manusia di muka bumi, aku masih yakin akan satu hal, yang itu bisa menenggelamkan dan menghancurkan mesin mesin pembunuh berdarah dingin. Dan kekuatannya adalah merasakan, ia hadir dalam tiap alirah darah manusia yang bernurani, seperti aku yang bisa merasakan lembutmu disini dalam bingkai baru tanpa noda, dan kerlap-kerlip lampu yang mengiring langkah kaki, semakin tegar untuk berteriak lantang : Aku Masih Punya Cinta!!.

Cinta?!…ya Cinta…walau terkadang aku terlalu naif memahaminya, sebatas pemahaman dari pengalamanku menjalani kehidupan. Terkadang nampak Rigid, pemahaman yang tidak utuh atas sesuatu hal yang besar. Tapi tak apalah, Inilah pilihanku, Eksistensiku hadir karenanya. Mengalami dan menjadi. bukankah kita besar dari pengalaman kehidupan?…banyak belajar dari sesuatu yang kita alami sehari-hari. Bukankah itu pengetahuan? Terkadang ini yang perlu kita bongkar…pengetahuan bukan hanyalah sesuatu yang kita dapat dari sebuah bangku sekolahan. Dan Cinta adalah persoalan pengalaman yang menjadikan kita ber-pengetahuan. Terlalu banyak teori, takkan menghasilkan apapun!, bila pengetahuan yang diperoleh hanya sebatas Rumus-rumus cepat tanpa aplikasi.

Aku mencintaimu!….itu adalah persoalan rasa dari pengalamanku menjalani kehidupan saat kita ter-interaksi. Apakah aku bersalah bila kamu tidak merasakannya? Tidak juga!. Cinta tak pernah salah. Cinta tidak sama dengan 1 + 1 = 2. Aku mencintaimu..dan tidak mengharuskan kamu untuk mencintaiku. Aku hanya ingin memberi, itu saja!…walaupun teramat sedikit dari yang aku miliki. Karena itu yang aku mampu lakukan saat ini…ketika jaman semakin bebal dan aku muak! Muak… menghadapi semua kemunafikan yang tersungging lewat senyum, Terorisme!..

Ha…ha….Aku ingin menerormu dengan Cinta

Biarlah makna Teror itu dipersempit. Toh tidak akan pernah merubah apapun…tidak pernah akan mengubah Dunia. Sepanjang ketidakadialan masih ada, sepanjang penggusuran merajalela, si Kaya bertepuk tangan atas keadaan si Miskin, dan yang ber-Kuasa melakukan teror atas nama Cinta!

Aku ingin menerormu dengan Cinta…karena itulah kuasaku. meneror hari-harimu dengan beraneka bunga, dan mewarnai kehidupanmu dalam pilihan-pilihan dan juga Keyakinan.

Cidurian, 03 Ramadhan 1424 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s