Cinta dan Keterasingan Manusia!


Cinta dan Keterasingan Manusia! [1]

Oleh : Zaenal Arifin

…Bukan hanya perasaan, namun juga pakai otak. Saya nggak percaya kalau cinta itu buta. Cinta butuh aspek lain, saling pengertian, kompromi dan pengorbanan yang dilakukan timbal balik. Saya belajar bahwa cinta itu berguna untuk meningkatkan diri masing-masing.
Risna, 22, karyawan swasta

…Sulit untuk diungkapkan. Cinta itu butuh pengorbanan, kesabaran dan keteguhan hati sehingga susah buat mempertahankan cinta. Tapi kalau tidak dipertahankan, lama-lama cinta juga akan hilang. Jadi, cinta itu bullshit.
Meiliana, 28, wiraswasta [2]

Cinta? Tai Kucing!…

Itulah judul sebuah buku kumpulan cerpen yang beberapa hari lalu saya baca [3], ungkapan itu mungkin terasa sarkastis tapi tetap realis. Sarkastis dan realis, karena menggambarkan realitas keseharian kita yang sangat sulit dalam memaknai sebuah kata “abstrak”. Ya, Cinta merupakan suatu konsep yang sulit untuk kita definisikan secara gamblang, panjang lebar, jelas dan ilmiah. Membicarakan persoalan Cinta adalah sesuatu yang tidak pernah habis, meminjam istilah Erich Fromm ; Cinta merupakan Problem Eksistensi Manusia[4]. Sebagai bagian dari eksistensi ; Cinta akan selalu ada dimana-mana, disetiap jaman dalam ruang dan waktu.

Persoalan cinta adalah persoalan kehidupan manusia seluruhnya yang  tidak pernah mengenal batas usia, gender, ras, ideologi, budaya..dsb. Cinta bukanlah monopoli anak muda (remaja)…meskipun pada akhirnya, remaja sebagai icon budaya pop menempati posisi dominan didalam perbincangan ini.

Cinta : Solusi Problem Keterasingan Manusia

Sejarah Cinta sangatlah panjang, setua peradaban manusia setua itu pula bila kita berbicara tentang Cinta, singkatnya sejarah manusia adalah sejarah Cinta itu sendiri.  Cinta merupakan sebentuk pengalaman yang harus dialami dan dirasakan bila kita ingin memahaminya. Cinta (amor, eros) menurut Fromm dan juga Marx bermula dari  keterasingan manusia atas realita yang ada disekelilingnya. Situasi keterasingan ini (dalam hal tertentu kesendirian) memicu manusia untuk menemukan sesuatu yang berada diluar dirinya sendiri (ego) hingga kemudian manusia mampu menemukan konsep Cinta.

Situasi keterasingan kemudian mengalami ‘metamorfosis’ pada manusia modern, disebabkan oleh perkembangan sosial budaya mutakhir, telah menuntun manusia pada aspek kehidupan yang semakin bersifat formal dan materil. Perilaku manusia kemudian dibatasi oleh sesuatu yang berbentuk dan berwujud, dan pada posisi akhir, menempatkan manusia tak layaknya sebuah mesin yang bersifat mekanis, kaku, formal dan linier. Situasi manusia yang keluar dari sentuhan dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain. Ia mengalami dan memahami dirinya sendiri dan orang lain sebagai benda; selain itu secara serentak juga mengalami ketiadaan hubungan dengan dirinya sendiri dan dunia luar secara produktif. Pada posisi ini cinta mengalami pergeseran makna yang signifikan Cinta kemudian dimaknai dalam bentuk dan wujud meninggalkan ide-ide dan konsep. Cinta direduksi dengan menggunakan logika angka dan industri. Cinta yang berwujud Trinitas tungggal sebagai libido seks, kekuasaan dan kekayaan.

Peradaban modern pada akhinya melahirkan pribadi-pribadi yang Narsis[5]. Pribadi individualis yang diperbudak oleh ambisi-ambisi dan kepentingannya pribadi yang telah menjadi berhala Cinta baru bagi manusia modern. Pribadi narsis yaitu mencintai diri sendiri secara berlebihan, menjadi ciri utama manusia modern yang semakin mengasingkan diri dengan dirinya sendiri dan dunia luar secara keseluruhan. alih-alih membebaskan, budaya modern, pada akhirnya mengasingkan manusia dan bahkan membelenggunya  secara sistematis. Pribadi yang terasing ini pada akhinya mengalami kehilangan pemahaman tentang jatidirinya sendiri .Fase inilah yang kemudian dinamakan Interegnum[6] .

Cinta yang diciptakan dan direduksi oleh kebudayaan modern menjadikannya kering kerontang dan hampir tanpa makna. Cinta yang berorientasi pasar ini tak lebih dari sekedar pertukaran maupun transaksi atas kepemilikan tubuh, dan tidak dapat memecahkan situasi keterasingan manusia modern yang akut. Lantas apa solusi untuk mengatasi problem manusia modern itu?. Erich Fromm menawarkan Cinta. Cinta yang Cinta sebuah cinta produktif yang tidak reduksionis namun holistis. Konsep dan aksi secara sinergis dalam praktek mencintai orang lain dan mencintai diri sendiri [7]

Mengapa harus Cinta?

Mengapa cinta menjadi jawaban atas problem eksistensi manusia? mungkin itulah pertanyaan selanjutnya yang muncul dibenak kita. bisakah cinta ini menyelesaikan problem manusia modern? dan cinta seperti apakah itu?

Situasi keterasingan manusia dari dirinya sendiri dan orang lain serta lingkungan sosialnya menuntut manusia untuk bisa keluar dari situasi krisis ini dengan menemukan makna baru atas kehidupannya. Dan  menemukan makna itu dapat diperoleh  dengan jalan praktek mencinta, karena tuntutan sebenarnya manusia untuk lepas dari situasi keterasingan ini adalah proses interaksi antar sesama, hidup bersama secara damai, saling mencintai ; mencintai orang lain dan juga mencintai diri sendiri sebagai sebuah fitrah. Kebutuhan  dasar akan kasih sayang dapat diperoleh ketika melakukan praktek secara langsung dan keluar dari kerangkeng ego yang dimiliki. Dengan demikian praktek mencintai merupakan praktek kebebasan dalam menentukan sikap dan pilihan untuk mencintai orang lain dan mencintai diri sendiri

Cinta dalam hal ini berarti menerima seseorang sebagaimana adanya, kelebihan dan kekurangannya, bakat dan perasaannya, watak dan fisiknya, kepandaian dan kebodohannya, keistimewaan dan ketololannya, ini bukan berarti mereka yang saling mencintai tidak berusaha memperbaiki kekurangan sesamanya, tetapi untuk memperbaikinya, mereka lebih dulu harus bisa menerima keadaaan yang sebenarnya, seperti halnya seorang Dokter menyembuhkan seseorang hanya setelah dia tahu keadaan yang sakit sebenarnya dari pasien [8]

Cinta yang produktif menurut Erich Fromm mengandalkan tanggungjawab, pemeliharaan, penghormatan, dan pengetahuan serta kehendak bagi orang lain untuk tumbuh dan berkembang, dengan demikian cinta yang produktif selalu menetapkan kepentingan yang sejajar antara manusia, antara yang mencintai dan yang dicintai. cinta produktif adalah cinta yang komunikatif, dialogis,dan partisipatif.(wallahu alam)


[1] Disampaikan dalam Diskusi hari Valentine yang diselenggarakan oleh PD PII Kab. Bandung, 15 Februari 2004

[2] http://www.citacinta.com

[3] Maroeli Simbolon, Cinta? TaiKucing!..,sebuah kumpulan cerpen.

[4] Erich Fromm dalam The Art of Loving

[5] Teori tentang Narsisme lahir dari Freud mengacu pada tahap-tahap perkembangan manusia berdasarkan kateksis-kateksis (dorongan-dorongan) tahap pragenital. Individu mendapatkan kepuasan dari stimulasi dan manipulasi tubuhnya sendiri (lebih jelas bisa dilihat dalam buku Teori-teori Psikodinamik(klinis),)

[6] Interegnum : Nilai lama sudah aus (basi) sedangkan nilai baru belum ditemukan (Parakitri T. Simbolon, Kompas 2000)

[7] Erich Fromm dalam Cinta, Seksualitas, Matriarki,Gender (lihat juga The Art of Loving)

[8] Dikutif dari kutifan Ignas Kleden dalam Buku CInta dan Keterasingan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s