dialektika-2


Aku bertemu dengannya tanpa sengaja ketika ia menyapaku di penghujung senja. Percakapan biasa bahkan tak menarik hati keluar dariku lepas seolah tanpa beban. Sampai ia bertanya padaku sesuatu yang eksistensial.

<Mahesa> Kamu Hidup?!

<Perawan_Cinta> mmm aku tak tahu

<Perawan_Cinta> Apakah Aku hidup???!

Sejak itu aku mulai tertarik padanya, dia memang beda sungguh berbeda, kehadirannya tak terduga, datang mengoyak seluruh nafas dan jiwa hingga lelah aku terbenam dipundaknya, diujung senja dengan tangis dan juga tawa. Aku rutin bertemu dengannya di tiap penghujung sore, hanya dia yang kunantikan walau susah bagiku untuk bisa menerka kehadirannya.

Datang dan pergi tiada pasti, kadang siang, sore terkadang juga malam. Terkadang ria, penuh tawa dan juga manja. Dan terkadang ia lemah dan keropos, tapi suatu saat ia datang dengan kuat dan kokoh mencengkramku, dan mengajakku menari. Menari, hingga benamkan aku pada mimpi

Entahlah menantinya selalu membuatku resah, hanya satu yang pasti padanya bahwa ia ada. Namanya mengingatkanku pada seseorang yang kukenal Sekitar empat tahun yang lalu, Mahesa. Tapi yang satu ini memang berbeda, membuatku hidup, yang dulu kini tinggal kenangan yang berbekas luka dan juga harap.

Aku memang tidak memahaminya, seperti tidak pahamnya aku terhadap diriku, yang aku pahami hanya ketidakkonsistenanya yang ia bilang ; Itulah Dialektika!. >>>

Cipaganti 2002

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s