keping waktu


Semakin jauh jarak kini kutempuh melewati ruang dan waktu yang tersisa, mencoba mengais setumpuk harapan yang masih ada walau mungkin kini sudah menjadi aus.

Hasratku berkata “Harus kulewati saat ini sepenuhnya, semoga esok akan tiba dengan terang!”.

Selalu ada yang menarik dalam kehidupan

Seolah menghentak kesadaran

Tak terasa memang guliran waktu menuntunku saat ini ketepi, setelah cukup kuarungi samudera kehidupan. Aku sendiri memang tak tahu, apakah ini memang saatnya ku berlabuh?. Aku masih belum yakin memang, saat ini jalan terbaik yang kupilih.

Entahlah benar atau tidak keputusanku untuk pergi, hingga aku berada disini saat ini di tengah laut lepas, diatas Kapal yang sebentar saja akan merapat di pelabuhan.

Detak jantung berpacu, seperti dendang

Desah nafas mengalun, seperti tembang.

Pada pandang pertama.

Mungkin inilah perjalanan pertamaku, dalam kehidupan yang sesungguhnya melewati hamparan daratan yang luas, menyeberang laut lepas, menggapai ujung menuju timur.

Menuruni kapal dengan keteguhan sekaligus kegalauan hati.

Jalan yang kupilih sepi, meski keramaian menyelimuti seluruh perjalanan, kutengok kiri dan kanan, aku merasa sendiri.

Semua orang bermain di dunianya sendiri. Dan bagiku saat ini duniaku adalah kebisuan.

Perempuan itu adalah aku, satu dari empat orang perempuan dalam perjalanan ini. Satu dari puluhan, ratusan, ribuan bahkan mungkin jutaan kaum perempuan di dunia ini. Hadir di sisi dunia, menyambut cerah dan gelapnya nuansa yang tercipta dari perputaran jagat raya.

Terbentang panjang menghampar

Seolah tiada ujung,

Tak ada awal

Aku memang tak pernah meminta untuk jadi perempuan, bahkan mungkin aku juga tak pernah minta untuk jadi seorang manusia. Sungguh kelahirankulah yang membuat aku seperti ini. Aku juga tak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia, kalau ada yang bersalah karena kulahir ke dunia, mereka adalah Ibu dan Ayahku dan juga Tuhan, kalau Ia memang benar-benar Ada!

Dan tak pernah kutemukan akhir

Bagaimana kubermula?

Hingga menjadi ada!

Seandainya ada waktu untuk memilih, aku tak mau jadi manusia, apalagi jadi seorang perempuan. Aku ingin menjadi Tuhan, tanpa jenis kelamin tentunya. Bukankah Tuhan selama ini berjenis kelamin laki-laki? –Kegilaanku semakin parah!>>>

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s