Pagi di bulan juli (2)


Pagi dingin yang membalut sepi, kulangkah kaki menuju sebuah warung kopi. entahlah malam ini aku sulit tidur. serasa ada yang menggantung dipikiranku, dan aku pun tak tahu itu?. Ditepian jalan ketemukan tempat itu..tempat aku biasa malem-malem (kalo imsomniaku kambuh) menghabiskan waktu dengan nongkrong dan minum segelas kopi pahit, ditemani beberapa batang rokok, dan beberapa potong gorengan bala-bala (huhuy…bala-bala dwehh). ½ empat pagi, waktu menunjukan, ah masih terlalu pagi emang, aku terdiam.. kukepulkan asap rokokku keatas membentuk gumpalan asap serupa awan. Kulihat kemana perginya kepulan itu..perlahan dia naik…keatap terus naik keatas dan lalu lenyap ditelan udara…kulakukan itu berkali-kali, hingga tak terasa 2 batang rokok kuhabiskan. Tempat itu sunyi..sesunyi nuansa hati yang saat ini kurasakan. Emh..kopi sudah habis setengah gelas, gorenganku sudah habis 4..aku maseh termangu disana, menerawang kealam bayang yang tak kunjung padam. Hanya suara seseorang yang mampu membuyarkan lamunanku saat itu,..suara itu suara perempuan, sungguh merdu kurasakan suaranya dikeheningan

” punten kang,..bade pesen mie rebus”..suara perempuan itu mengagetkan. Rupanya itu ditujukan ke siakang penjual mie rebus itu.

“ough…mangga neng”..kata si akang

Aku menoleh padanya,..menoleh kearah suara barusan, melihat sepintas perempuan itu. Ehm cantik juga pikirku.

Perempuan itu melempar senyum padaku,…sebuah senyum yang menggoyang pendulum, ..dag dig dug hati sedikit kurasakan., kemudian perempuan itu duduk disampingku. Ehm,…aku diam mematung, mencoba melanjutkan aktivitas tadi yang aku lakukan, kali ini lebih pelan. .

Ku toleh lagi kesamping kananku, tempat dimana perempuan itu duduk, hmm.. aku menatapnya, dia diam..tiba-tiba dia menoleh padaku dan menatap wajahku.

Untuk sesaat kami saling tatap, hmm..pipiku memerah.. aku jadi merasa sedikit malu, karena ketauan sedang menatapnya,..tatapan lembutnya membuat aku terdiam.sementara jantungku berdegup kencang, kembali dia tersenyum padaku..uh…senyum yang meruntuhkan hati (hehehe…) aku membalas senyumnya. Ingin rasanya aku menyapanya,..tapi keberanianku belum muncul. Kami-kami sama terdiam,…hingga akhirnya kuberanikan diri menyapanya?…mhh

” bade angkat kamana teh?” aku memulai pembicaraan…perempuan itu menoleh padaku lagi, kembali senyum mengembang di bibirnya..

“mmhh..bade damel kang,” dia menjawabku lembut

“ough damel,.. meni nyubuh atuh teh, emang damel dimana?” aku bertanya lagi padanya

” ah biasa abdimah buburuh kang,…damel di kahatek” jawabnya

“ough..”..aku terdiam, namun benakku dipenuhi pertanyaan, hmm.. sepagi inikah dia berangkat kerja? Tak salahkah itu, jam 4 pagi?..

” biasa kang shift pagi” dia melanjutkan, seolah tahu apa yang aku pikirkan..

“ough..emang lebet tabuh sabaraha shift pagi?” aku bertanya lagi mencoba bersikap empati padanya

“tabuh setengah lima kang!” dia menjawab

” mangga ah neng di leet mie na” suara si akang penjual mie memotong pembicaraanku dengan perempuan itu.

” ough mangga kang, ditampi” jawab perempuan itu..

” mangga atuh kang..ngaleet heula nya”..perempuan itu menawariku..

” ough, mangga,..mangga” aku mempersilahkan

Aku tak mau mengganggu lagi dengan pertanyaanku, kasihan pikirku, mungkin itu sarapan pagi pertamanya. Aku kembali melanjutkan aktifitas merokokku, sambil sekali-kali melihat perempuan itu yang lagi makan. Nampaknya emang dya laper banget..kuperhatikan itu.

Pikirku menerawang, sepagi ini perempuan ini harus pergi berangkat kerja, sungguh sebuah hal yang mengundang empatiku. disaat orang lain masih lelap tertidur siteteh yang cantik ini sudah memulai harinya untuk berangkat kerja,..sebuah waktu kerja yang menurut pendapat pribadiku tidak normal. Ehm, tapi inilah realitanya hidup memang, sebuah hal yang tidak bisa aku tolak..demi sebuah perjuangan untuk hidup dia mesti bekerja dengan jadwal yang ditentukan oleh perusahaan itu.

Si Teteh bukan hanya seorang saja yang merasakan hal itu, tapi ratusan bahkan ribuan perempuan mengalami nasib yang sama. Kerja sebagai buruh kontrak yang memiliki waktu kerja hampir tidak terjadwal, sedih juga sebenarnya melihat kondisi kaum perempuan itu, memang kurang beruntung. Ada yang shift malem atao bahkan shift pagi sekali seperti siteteh cantik ini. Entahlah saya berpikir kadang emang dunia kerja itu tidak manusiawi, dengan berbagai alasannya para pengusaha kadang memperlakukan pekerja dengan seenak hatinya. Mmh.. suatu kondisi yang memprihatinkan memang, para kapitalis penguasa itu telah melakukan penindasan dan memperlakukan pekerjanya layaknya sebuah mesin,..mereka tak lain adalah sekrup-sekrup dari mesin uangnya kapitalis…hmm menyedihkan memang, sementara aku sendiri belum mampu berbuat apa-apa. Hanya sekedar meratapi dan mengurut dada.

Daerah rancaekek dan parakanmuncang memang adalah daerah urban, tempat berjubelnya pekerja industri (buruh pabrik). Sejak industrialisasi dimulai awal 90-an di daerah ini , maka bermunculanlah pekerja-pekerja dari berbagai daerah mengadu nasibnya disini. Dengan atau tanpa skill yang cukup mereka memaksakan bekerja. Hingga munculah kebijakan yang menurut saya cukup menggelikan dan juga tidak manusiawi. Kebijakan untuk menerapkan sistem kerja outsourching yaitu mempekerjakan tenaga kerja kontrak telah menyebabkan keuntungan yang luar biasa dipihak pengusaha. Pelaksanaan kebijakan ini bahkan dilakukan secara massif semua pekerja sekarang sisitemnya outsourcing (alias kontrak). Dengan sistem ini maka yang diuntungkan adalah pengusaha yang tidak perlu repot repot memikirkan dana pesangon kalo kontrak selesai atau phk muncul, tidak perlu repot-repot juga menyediakan uang THR, sementara para pekerja disedot habis-habisan tenaganya untuk kepentingan penguasaha itu. Tapi anehnya memang saat ini dengan kondisi seperti itu, bukanya berkurang bahkan justru kedatangan para pekerja/buruh industri disni tiap tahunya terus meningkat. Kondisi ekonomi memang menyebabakan semua orang lantas berpikir untuk bekerja apa adanya dan mau menerima kondisi yang ada walaupun dalam keadaan ketertindasan yang mereka rasakan..

Rancaekek di pagi hari tak ubahnya desingan suara mesin-mesin pabrik yang memecah sunyi…

dan saya bersyukur saya bukan bagian dari sekrup-sekrup yang menjalankan mesin itu, walapun tetap saja saya memiliki beban yang mungkin sama banyaknya dengan mereka.

Terimakasih ya Allah

Alhamdulillah

Parakanmuncang, Catatan sebuah pagi di bulan juli…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s